Home / Bali / Arak, antara Eksistensi dan Distorsi

Arak, antara Eksistensi dan Distorsi

Manusia Bali adalah masyarakat agraris yang terkenal dengan dengan etos kerja yang tinggi. Dikarunia lahan yang subur dengan 4 danau sebagai bendungan alami yang akan senantiasa menyediakan air untuk pertanian. Saat musim tanam petani harus bekerja keras untuk mengolah tanah agar menghasilkan padi yang bagus dan untuk menjaga stamina terutama disaat bergelut dengan lumpur maka petani biasa minum arak.

Arak pada dasarnya adalah minuman kesehatan pada kadar tertentu. Di belahan lain Pulau Bali, ada daerah yang tidak cocok untuk pertanian padi tapi banyak tumbuh pohon lontar. Dan secara turun temurun pohon ini telah memberikan manfaat penting bagi masyarakat Bali. Namun belakangan ini, padi dan arak sebagai komoditi penting masyarakat Bali terancam punah. Sistem Subak yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia terus tertekan karena alih fungsi sawah yang tidak terkendali. Arak pun menjadi komoditi yang mengalami distorsi, dari minuman kesehatan menjadi minuman memabukkan yang mendorong terjadinya kriminalitas. Selain itu, perijinan yang sulit didapat membuat arak semakin sulit untuk diperdagangkan sehingga sulir didapatkan masyarakat luas.

Padi dan arak adalah dua komoditi yang sangat erat dengan budaya Bali sekaligus penopang ekonomi penting. Namun nasibnya tidak memberikan masa depan yang bagus buat petani. Kondisi ini membuat timbul pertanyaan, Bali mau dibawa kemana bila budayanya perlahan-lahan hilang digantikan oleh modernitas dan teknologi?

 

Desa Dukuh dan Tulamben diapit oleh Gunung Agung dan Laut Bali yang mencerminkan hubungan kekerabatan hulu hilir baik secara ekologi maupun sosial ekonomi. Kedua desa mempunyai struktur lahan yang hampir sama yaitu sebagian besar merupakan lahan kritis sehingga hanya tanaman tertentu yang dapat tumbuh dengan baik, salah satunya adalah pohon lontar. Dari hasil pemetaan partisipatif yang dilakukan di Desa Dukuh dan Tulamben, keberadaan pohon lontar pun cukup dominan. Untuk memperkuat hasil pemetaan maka dilakukan analisis spasial dengan menggunakan citra satelit untuk mengetahui jumlah pohon lontar secara lebih akurat di Desa Dukuh.

Wilayah desa dibagi menjadi 3 bagian (kluster) berdasarkan kerapatan pohon lontar yaitu kerapatan rendah (0-7 pohon/ha), sedang (8-19 pohon/ha) dan tinggi (20-28 pohon/ha). Dari analisis spasial ini didapatkan perkiraan jumlah pohon lontar di Desa Dukuh sekitar 19.393 pohon. Menurut anggota masyarakat pembuat arak, 2-3 pohon mampu menghasilkan 28 liter tuak per hari. Tuak sebanyak 28 liter ini bisa menjadi bahan baku untuk membuat 3 liter arak. Sehingga bila semua pohon dipanen, maka akan menghasilkan hingga 100.000 liter per hari. Dengan harga arak Rp 20.000 per liter maka nilai ekonomi dari arak bisa mencapai 388 juta rupiah per hari. Komoditi yang sangat potensial untuk menyejahterakan masyarakat.

Perbaikan tata kelola lahan dan ekonomi masyarakat di Desa Dukuh akan mampu menurunkan laju (tingkat) sedimentasi (run off) dari hulu ke hilir, disaat musim hujan membuat air laut menjadi keruh dan merusak ekosistem terumbu karang.  Desa Tulamben sangat menggantungkan ekonomi masyarakatnya dari kegiatan pariwisata bahari dengan keberadaan pantai dengan gugusan terumbu yang bagus serta keberadaan kapal karam (shipwreck) Liberty yang terus mengalami kerusakan akibat dampak dari sedimentasi serta manajemen pariwisata yang memerlukan perbaikan.

Arak harus dikembalikan kepada fungsinya sebagai tetabuhan dan sebagai komoditi untuk kesejahteraan masyarakat, yang artinya kita mampu menjaga dan menghormati alam sesuai dengan keberadaannya. Dengan manajemen yang bagus maka proses produksi arak pun dapat menjadi daya tarik wisata dengan memperhatikan kaidah-kaidah kebersihan dan kesehatan, serta kuat dengan nilai-nilai budaya. Proses pembuatan arak dengan bambu yang kemudian ditampung dalam botol kaca yang dianyam dengan bambu akan menjadi komoditi eksklusif dari Dukuh khususnya, dan menjadi komoditi eksklusif dari Karangasem “The Spirit of Bali”.

Mau tahu lebih lengkap proses pembuatannya? Para pengrajin tuak dan arak di Dukuh siap berbagi cerita kepada kamu dalam Jelajah Desa Dukuh, 30 Juni 2018 nanti. Daftar disini ya!

Komentar

Komentar

x

Check Also

Sampah Bukan Sahabat Penyu

Indonesia dikutip dari Jambeck et al., (2015) menduduki posisi ke dua terbesar penyumbang sampah plastik dunia sebesar 0.48–1.29 jutaan ton/tahun yang dibuang ke laut setelah Cina. Selain itu rata-rata penduduk Indonesia memproduksi sampah mencapa 0,8 kg/ hari (Prawira, 2014) dan bisa dimungkinkan jumlah ini akan bertambah setiap tahunnya, mengingat adanya angka ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow