Home / Badung / Budaya Turun Temurun Nelayan Mengening

Budaya Turun Temurun Nelayan Mengening

Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas sosial ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya wilayah pesisir dan lautan. Dengan demikian, secara sempit masyarakat pesisir memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan potensi dan kondisi sumber daya pesisir dan lautan. Mereka mempunyai cara berbeda dalam aspek pengetahuan, kepercayaan, peranan sosial, dan struktur sosialnya. Karakteristik sosial ekonomi masyarakat pesisir yaitu bahwa sebagian besar pada umumnya masyarakat pesisir bermatapencaharian di sektor kelautan seperti nelayan, pembudidaya ikan, penambangan pasir dan transportasi laut. Masyarakat di kawasan pesisir Indonesia sebagian besar berprofesi sebagai nelayan yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Karakteristik masyarakat nelayan terbentuk mengikuti sifat dinamis sumberdaya yang digarapnya. Sehingga untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, nelayan harus berpindah-pindah. Selain itu, resiko usaha yang tinggi menyebabkan masyarakat nelayan hidup dalam suasana alam.

Bali adalah salah satu pulau kecil milik Indonesia yang terletak di sebelah timur pulau Jawa yang banyak memiliki keberagaman. Keberagaman merupakan suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, ekonomi, dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa dan negara.

Masyarakat pesisir di Bali khususnya di Pantai Mengening, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, memiliki keberagaman sosial-budaya. Nelayan di pantai tersebut masih menggunakan alat transportasi yang bersifat tradisional yaitu kano (kayak) berbahan fiber yang masih dioperasikan menggunakan dayung serta melakukan penangkapan skala kecil di daerah sekitar Pantai Mengening saja. Berbeda dengan nelayan di sekitarnya yaitu nelayan Banjar Seseh dan Banjar Sogsogan di sisi timurnya. Nelayan di daerah tersebut menggunakan perahu jukung, pengoperasiannya sudah menggunakan mesin dan melakukan penangkapan yang jangkauannya lebih luas sampai ke Pantai Jimbaran. Di sebelah barat Pantai Mengening adalah Desa Nyanyi, Tabanan dimana nelayannya menggunakan perahu jukung dan pengoperasiannya menggunakan mesin dan jangkauan untuk menangkap ikan cukup luas sampai ke Pantai Kedungu seterusnya ke barat. Keragaman alat transportasi ini bisa menjadi salah satu faktor penting bagi nelayan untuk menggunakannya serta mengfungsikannya alat transportasi yang ada pada kawasan masing-masing. Dimana masih ada yang menggunakan kano (kayak) dikarenakan masih mengikuti budaya nelayan terdahulu di Pantai Mengening.

Budaya nelayan yang terdahulu ini sampai saat ini masih bertahan dengan alat transportasi kano (kayak) ini, dikarenakan nelayan saat ini masih mencari ikan di sekitar lingkungan Pantai Mengening, serta nelayan setempat menggunakan alat tangkap tidak begitu banyak dipergunakan yaitu jaring dan bubu. Peralatan yang digunakan bisa dikatakan menggunakan alat sederhana yang belum mengenal teknologi canggih seperti sonar untuk mendeteksi keberadaan ikan seperti negara-negara yang sudah maju.

Berdasarkan pengalaman puluhan tahun yang menuntun nelayan di Pantai Mengening untuk mengetahui keberadaan ikan dengan menggunakan arah angin. Dimana nelayan Mengening masih memperhitungkan lingkungannya untuk tidak merusak lingkungan dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan itu sendiri. Serta menggunakan transportasi yang masih mempertahankan budaya terdahulu yaitu kano (kayak) agar lingkungan laut sekitarnya tidak tercemar. Nelayan menjaring rejeki dari hasil tangkapan bergantung nasib mujur untuk bisa mendapatkan tangkapan ikan melimpah. Cuaca, arus gelombang yang cukup kuat, sampai jaring tersangkut menjadi tantangan tersendiri untuk mencari ikan dengan kano (kayak). Nelayan Mengening saat ini tetap mempertahankan budaya leluhur sekaligus melestarikan lingkungan di Pantai Mengening secara berkelanjutan.

Oleh : Eva Damayanti

Peserta Anugerah Jurnalisme Warga 2017

 

Komentar

Komentar

x

Check Also

Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

“ Pada tahun 1963 saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Waktu itu saya menjadi angkatan kedua di SD 1 Purwakerthi,” tutur I Made Badung, saksi sejarah saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Sebelum meletus, para pengungsi sudah berdatangan dari Desa Datah dengan berjalan kaki, karena dulu akses transportasi belum secanggih ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow