Home / Badung / CII: Uluwatu Habitat Ikan Paus

CII: Uluwatu Habitat Ikan Paus

Amlapura, LenteraEsai.com – Conservation International Indonesia (CII) menemukan bahwa di perairan laut di Kawasan Pantai Uluwatu, Kabupaten Badung, Bali merupakan habitat beberapa jenis ikan berukuran besar.

“Banyak ikan besar ditemukan di pantai Uluwatu. Ini sesuai dengan apa yang dikemukakan para orang tua kita dahulu, yakni Uluwatu merupakan tempat Ulam Agung.” Kata Iwan Dewantama dari CII Denpasar di hadapan peserta sosialisasi Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Amlapura, Senin (25/6).

Ia mengungkapkan, setelah dilakukan penelitian memang benar Kawasan Pantai Uluwatu sebagai tempat atau habitat ikan-ikan besar antara lain ikan paus.

“Ada Sembilan jenis ikan paus yang hidup dan berkembang di Uluwatu,” ujar Iwan dengan menambahkan keberadaan KKP antara lain untuk melindungi keberadaan ikan-ikan besar yang cukup langka tersebut.

Menurut dia, sehubungan telah diketahui habitat ikan-ikan besar, maka luas daerah KKP di Uluwatu ditetapkan mencapai sekitar 50 ribu hektar. Sementara total KKP di perairan Bali mencapai 90 ribu hektar tersebar di beberapa daerah.

Selain Uluwatu lanjut Iwan, perairan laut Candidasa juga memiliki karang unggulan berupa Karang Jepung. Ini merupakan spesies baru dan di seluruh dunia baru hanya ditemukan di Bali. Karang Jepung berada di kedalaman 27 meter di dekat perairan Gili Tapekong.

Di Bunutan juga ada tebing laut yang menjorok ke dalam. Zona ini masuk zona pariwisata sehingga diperbolehkan memancing ikan, hanya saja pancing harus dilempar dari tempat tertentu, tidak boleh di sembarang tempat. “Boleh memancing, hanya di anjungan daja. Ini juga permintaan warga setempat.” ucapnya.

Sosialisasi KKP tersebut dihadiri pejabat dari Dinas Kelautan dan Perikanan Bali serta Kabupaten Karangasem, Kepala Desa dan Bendesa Adat dari Sembilan desa penyangga di Karangasem, serta LSM lingkungan Coral Reef Alliance dan CII.

Pihak desa adat sempat mengeluhkan sulitnya melakukan pengawasan di lingkungan perairan, selain menyangkut faktor tenaga dan tentunya biaya, juga terkait aturan pemerintah.

Jro Mas Suyasa Bendesa Adat Bugbung, Jro Mas Suyasa mengakui kalau peran desa penyangga penting, namun perlu dukungan dana dan juga sumber daya. Karena itu diusulkan agar KKP ini mendapatkan dukungan pendanaan yang memadai atau maksimal.

Ia berharap program ini bias berjalan dengan baik, tidak hanya wacana seperti halnya beberapa rencana terkait konservasi lainnya.

Sementara itu, Komang Oka dari Desa Pakraman Segga mengungkapkan bahwa di desanya sudah dibuat ‘perarem’ atau aturan terkait upaya pemungutan dana untuk kepentingan KKP, namun malah dikategorikan pungli.

Artinya lanjut dia, bila pungutan itu tetap dilakukan, tentnunya si pelakunya bias di proses secara hukum padahal mereka bekerja untuk kepentingan lingkungan dan orang banyak.

“Ini dilematis. Di satu sisi desa pakraman diminta mendukung suatu gagasan atau program, sementara di sisi lain trobosan yang dilakukan desa Pakraman dianggap melanggar hukum”, ujarnya menjelaskan.

Keluhan yang sama juga dikemukakan Bendesa Adat Culik, Gede Degeng. Bahkan kata dia pihaknya sempat dipanggil Polda Bali karena dituduh melakukan pungutan liar. Padahal sudah ada dasarnya berupa ‘perarem’

“Sekarang kami termasuk desa penyangga untuk KKP, lalu sejauh ini apa yang kami dapatkan, karena untuk melakukan pungutan guna pendanaan saja kami tidak boleh karena dianggap pungli:, ucap Gede Gedeng menegaskan. (LE-KR)

Sumber : lenteraesai.com

Komentar

Komentar

x

Check Also

Berharap Serat Sisal untuk Kehidupan

Gebang, demikian warga sekitar Desa Dukuh, kaki Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali ini menyebut tanaman perdu bernama latin Agave sisalana ini. Sejumlah negara dan media pertanian menyebutnya sisal sebagai nama universal. Ketut Artini dan Nengah Minggu adalah pasangan yang bertahun-tahun mengolah bilah-bilah gebang yang hidup di sekitar rumah mereka. ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow