Home / Program / Conservation International Gelar Diskusi Seni Dan Perlindungan Garam Amed

Conservation International Gelar Diskusi Seni Dan Perlindungan Garam Amed

Sebuah diskusi publik terfokus dengan tema upaya “Perlindungan lahan garam Amed” digelar hari Kamis 13 October 2016 di Amed Cafe, Amed, Kabupaten karangasem. Acara diskusi yang dikawal oleh Conservation international (CI) Indonesia ini dihadiri Asisten II Bupati Karangasem, beberapa Dinas terkait diantara nya Dinas Koperasi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Kelautan dan Perikanan, BLH (Badan Lingkungan Hidup), masyarakat dan kelompok tani garam Amed, serta seniman fotografi dan Mural yang peduli isu perlindungan Garam Amed.

Telah menjadi komitmen Conservation International (CI) Indonesia sebagai salah satu lembaga konservasi untuk membangun hubungan yang jelas antara kegiatan konservasi sumber daya alam dan manfaat ekonomi nya terhadap masyarakat. Conservation International (CI) Indonesia sejak tahun 2012 telah bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam penyusunan tata ruang laut (RZWP3K) Karangasem dan inisiatif pengembangan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Karangasem sebagai bagian terintegrasi dari RZWP3K.

Tata Ruang Laut dan KKP adalah kebijakan pemerintah bertujuan untuk menjamin keberlangsungan manfaat dari sumber daya alam baik secara ekologi maupun ekonomi kepada masyarakat, dan salah satu kegiatan ekonomi masyarakat pesisir tersebut adalah tambak garam oleh petani garam di Amed. Komoditi Garam Amed telah mendapat pengakuan nasional berupa sertifikat Indikasi Geografis, bersama dua komoditi Bali lainnya yaitu Mete Kubu dan Kopi Kintamani.

Diskusi terfokus Perlindungan garam Amed ini bertujuan untuk 1). Mendorong perlindungan lahan Garam Amed melaluiTata Ruang Pesisir dan Laut (RZWP3K) Bali, RTRWK Karangasem, Penerapan Perpres 51/2016 tentang Sempadan Pantai, Peraturan Desa dan Awig-awig. 2) .Membangun kolaborasi dan sinergi para pihak dalam menjamin keberlangsungan produksi Garam Amed sebagai produk lokal yang diakui secara nasionall. 3) Merancang program-program peningkatan produktivitas petani garam Amed serta potensi pariwisata garam Amed serta 4). Melakukan kampanye perlindungan Garam Amed melalui media pameran foto dan mural

Perlindungan lahan Garam Amed bisa dicapai melalui Perencanaan Tata Ruang Pesisir dan Laut serta membangun sinergi para pihak dalam menjamin keberlangsungan produksi Garam Amed sebagai produk lokal yang diakui secara nasional. Berfokus pada peningkatan produktivitas petani garam Amed serta potensi kepariwisataan garam Amed.

Iwan Dewantama, Manager program KKP Bali menjelaskan “Sejak dahulu orang sudah mengenal garam sebagai komoditi yang penting namun tidak banyak yang memperhatikan kelangsungan produksi garam. Potret nasional tidak jauh berbeda dengan potret di daerah, termasuk di Amed.”

Produktivitas garam Amed sebesar 33 ton per hektar masih jauh di bawah angka produktivitas nasional 112 ton/ha (tahun 2015) padahal Garam Amed telah mendapatkan pengakuan nasional berupa sertifikat Indikasi Geografis (IG). Banyak sekali masalah yang dihadapi para petani garam baik di Amed maupun di belahan pesisir lainnya di Indonesia, dengan nasib yang hampir sama dengan para nelayan hingga kemudian lahir UU no. 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam.

Kegiatan diskusi terfokus terselenggara atas kerjasama Mabesikan Project (proyek kerjasama Search for Common Ground dengan Sloka Institute dan 2 orang seniman Rudi Waisnawa dan Arie Putra) dan Conservation International (CI) Indonesia. Diskusi terfokus dilaksanakan selama 1 hari pada 13 October 2016, yang sekaligus membuka pameran foto dan Mural yang berlangsung selama 6 hari sampai tanggal 19 Oktober 2016.

Komentar

Komentar

x

Check Also

Bu Ribu, Olahan Ikan Khas Mendira

Hampir semua orang pasti sudah pernah menikmati atau paling tidak mencicipi sate. Bagaimana tidak makanan ini sangat terkenal di Bali bahkan di Indonesia. Sebagian besar bahan yang digunakan untuk membuat sate adalah daging ayam atau daging kambing. Lain halnya dengan sate yang berada di Banjar Mendira, Desa Adat Sengkidu yakni ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow