Home / Program / (Indonesia) Menangkap Kabut Di Desa Dukuh

(Indonesia) Menangkap Kabut Di Desa Dukuh

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Dukuh. Satu kosa kata yang termasuk baru bagi saya seorang pelajar yang tinggal di kota Denpasar. Sebelumnya saya tidak pernah mengenal kosa kata ini: Dukuh. Saya baru mengenalnya saat saya mengikuti program Live In yang diselenggarakan Conservasi Internasional (CI) Indonesia di  8 – 10 Juli 2019, beberapa waktu lalu.

Program Live In ini mengantarkan saya ke sebuah desa yang bernama desa Dukuh di kecamatan Kubu, Karangasem, Bali. Sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Agung (yang saat ini masih proses erupsi). Menurut catatan di situs Wikipedia, luas desa Dukuh seluas 22,07 km2 dan dihuni oleh 3.899 jiwa dengan tingkat kepadatan 141/km2. Itu data tahun 2016. Data setelah itu belum saya dapatkan ketika saya cari-cari di internet. Saya yakin data penduduk desa Dukuh sudah berubah. Tetapi tidak apalah kita pakai data itu dulu. Oh ya desa Dukuh terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Candigehe, dusun Dukuh, dusun Bahel, dusun Batugiling dan dusun Dusun Pandan.

Kembali ke perjalanan saya dari kota Denpasar ke desa Dukuh, Karangasem. Selama perjalanan, saya sempat memperhatikan kiri-kanan jalan yang rombongan kami (oh ya rombongan kami ada pelajar dan mahasiswa. Saya sendiri menjadi satu-satunya pelajar SMP yang ikut program Live In) lalui. Ketika memasuki perbatasan Karangasem tetapi belum masuk wilayah kecamatan Kubu, pinggir-pinggir jalan itu masih hijau. Namun setelah memasuki kecamatan Kubu, kondisi kiri-kanan jalan mulai berubah seperti kekeringan. Yang sebelumnya hijau mulai menjadi kuning ke orange. Pokonya kering lah. Kalau menurut info dari situs ppsp.nawasis.info/dokumen/perencanaan (2019) kecamatan Kubu, Karangasem termasuk desa Dukuh yang terletak di kaki gunung Agung termasuk daerah memiliki kandungan air sangat sedikit sekali (0,1 lt/detik).

Kenyataan itulah yang saya rasakan dan lihat ketika menjejakkan kaki pertama kali di desa Dukuh: kering dan tandus! Saya lupa nama dusun tempat kami menginap Live In. Yang saya tahu desa Dukuh terbagi dalam tiga kondisi geografi yang berbeda. Orang di desa Dukuh menyebutnya daerah Dukuh Atas, Dukuh Tengah dan Dukuh Bawah (Saya dan teman-teman menginap selama tiga hari dua malam di daerah Dukuh Tengah). Jujur, sebelum saya berangkat ke desa Dukuh, saya tidak tahu jika desa Dukuh sama sekali tidak punya sumber air. Saya kira masih ada sumber air seperti di desa lainnya.

Selama saya di desa Dukuh, saya mendapatkan banyak pelajaran baru. Diantaranya, saya dan teman-teman memiliki keluarga baru. Tidak hanya keluarga baru. Di desa Dukuh ini, saya belajar bagaimana saya harus hemat air. Apalagi saya belajar dari masyarakat desa Dukuh yang jika mandi memanfaatkan ember kecil yang digantung di langit-langit kamar mandi. Ember kecil itu tengah-tengah bagian bawahnya diberi lubang. Tempat air mengalir pelan netes-netes dan kita bisa mandi mirip menggunakan shower di rumah. Jadilah air menjadi hemat. Ketika di desa Dukuh, saya benar-benar menghemat air saat mandi. Saya menjadi begitu sayang gitu sama airnya.

Pengalaman saya selama tiga hari dua malam di desa Dukuh, masyarakat tidak memiliki sumber air tanah. Sehingga masyarakat harus membeli air tangki dari pemerintah. Masyarakat juga membuat Embung atau tempat yang digunakan sebagai penampungan air hujan. Air dari embung ini digunakan oleh masyarakat desa Dukuh untuk keperluan sehari-hari. Namun, dikarenakan desa Dukuh ini luas, dan jalan menuju desa Dukuh bagian atas lebih susah dijangkau dibandingkan desa Dukuh bawah, maka air embung ini lebih diutamakan untuk dipergunakan oleh masyarakat desa Dukuh bagian atas. Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Padahal air menjadi sumber kehidupan. Hal ini seperti yang diungkapkan Flysh Geost (2018), bahwa air adalah sumber kehidupan dan tanda kehidupan. Sumber kehidupan karena setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini memerlukan air untuk dapat bertahan hidup. Salah satu yang dapat menikmati fungsi atau manfaat dari air adalah manusia. Intinya, setiap aspek dalam kehidupan manusia pasti membutuhkan air untuk mendukungnya, baik secara individu maupun untuk kebutuhan bersama.

Tidak hanya manusia yang memerlukan air. Tanaman pun memerlukan air untuk kehidupan. Tak terkecuali tanaman Gebang (Agave sp) di desa Dukuh juga memerlukan air. Tumbuhan Gebang ini awalnya oleh masyarakat dikira mengganggu. Sehingga dipangkas hingga sedikit. Lalu ada warga yang mencoba mengambil serat Gebang ini, dan ternyata kuat. Lalu setelah itu masyarakat desa Dukuh mulai melestarikan tanaman Gebang ini. Jadi, hutan yang dimiliki desa Dukuh ini, ada terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang masih hijau lebat dan gersang.

Informasi yang saya dapat selama Live In di desa Dukuh, bahwa Lembaga Conservation International, dalam dua tahun terakhir mengarahkan masyarakat desa Dukuh untuk menumbuhkan tanaman Gerbang di daerah gersang tersebut dengan teknik irigasi tetes. Irigasi tetes ini tujuannya agar tanaman yang sedang ditumbuhkan tersebut tetap mendapatkan air. Jadi, di samping tanaman-tanaman tersebut, diletakkan botol aqua yang berisi air yang sudah dilubangi bagian bawahnya.

Berdasarkan obrolan saya dengan ibu-ibu di desa Dukuh, Ibu-ibu di desa dukuh ini juga memanfaatkan tanaman Gebang untuk membuat rambut barong sebagai pekerjaan sampingannya. Jadi dari serat gebang itu dijadikan rambut barong dan dijual ke Sukawati, Gianyar.

Pengalaman saya tiga hari dua malam di desa Dukuh ini mengesankan saya. Terutama bagaimana memanfaatkan air dengan sebaik-baiknya. Saya jadi berpikir kita memang harus menghemat air. Selama saya di desa Dukuh hingga saya pulang kembali ke rumah, saya masih memikirkan terus, bagaimana solusi masalah air di desa Dukuh yang dapat saya berikan. Selain yang solusi yang sudah masyarakat terapkan.

Saat ini yang sempat saya pikirkan adalah ‘menangkap kabut’ sebagai sumber air. Jadi desa Dukuh yang tergolong daerah di atas tentu masih banyak diselimuti kabut dn dingin ketika pagi hari. Kabut ini mengandung uap air. Jadi kita bisa ‘menangkap kabut’ dan mengembunkannya menjadi sumber air baru. Itu sementara untuk solusi yang dapat saya tawarkan.

 

Daftar Pustaka

Flysh Geost, Mei 2018, Apa itu air? Pengertian, Fungsi, Sumber, dan manfaatnya, https://www.geologinesia.com/2018/05/apa-itu-air.html

ppsp.nawasis.info/dokumen/perencanaan/…/bp/…karangasem/bab%202%20draft.doc)

 

Oleh: Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya

(SMPN 3 Denpasar)

Komentar

Komentar

x

Check Also

Desa Dukuh Masih Punya Bali

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language. Tepatnya tanggal 8 Juli 2019, saya melakukan kegiatan Live in di Dusun Bahel, Desa Dukuh, Karangasem; bersama ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow