Home / Jurnalisme Warga / Garam Amed, Bertahan dalam Himpitan Pariwisata

Garam Amed, Bertahan dalam Himpitan Pariwisata

Amed terkenal dengan garamnya yang khas. Kawasan yang berada dekat dengan pantai ini, kehidupan masyarakatnya bertumpu pada garam. Garam menjadi kebutuhan pokok yang harus ada di dapur saat memasak. Makanan tanpa garam akan terasa hambar. Kehadiran garamlah yang membuat makanan jadi lebih terasa. Ibarat sayur tanpa garam, hambar bukan? Kualitas, kebersihan dan cara pembuataan garam dapat mempengaruhi rasa garam. Garam Amed sudah terbukti kualitas dan rasanya yang khas. Berbeda dari garam di wilayah lain, konon garam Amed telah diakui kualitasnya sejak zaman Kerajaan Karangasem.

Petani garam di Amed sangat menjaga dan melestarikan warisan leluhur dalam membuat garam. Para petani garam ini tetap bertahan membuat garam ditengah kemajuan pariwisata Amed. Sebagian besar lahan Amed untuk membuat garam telah berubah menjadi penginapan dan restoran. Hal ini tidak menjadi halangan bagi petani garam yang tersisa. Mereka membentuk Kelompok Petani Garam Amed untuk meminimalkan berkurangnya jumlah petani garam di Amed. Jumlah petani garam di Amed adalah 25 orang dan luas masing – masing lahan pertanian adalah 3 are jadi totalnya 75 are. Selain itu hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga keaslian garam Amed.

Pembuatan garam Amed masih sangat sederhana dan tradisional. Cara pembuatan garam Amed adalah sebagai berikut:
1. Di lahan yang dibuat petak – petak penggaraman, air laut dituangkan pada petak – petak penggaraman. Ini merupakan langkah pertama pembuatan garam
2. Tinjungan yang terbuat dari anyaman bambu digunakan untuk menyaring mineral tanah yang dicampur dengan air laut yang disebut nyah
3. Penyusuuan atau penampang yang terbuat dari pangkal pohon lontar digunakan untuk menampung mineral – mineral yang telah disaring dari tinjungan atau nyah. Kemudian dijemur selama 4 hari. Setelah mengkristal, dipanen untuk dikunsumsi atau dijual.

Setelah usai panen, petani garam menghargai garam Amed per kilonya sebesar dua puluh ribu rupiah kepada para pedagang, untuk yang sudah dikemas dihargai lima ribu rupiah per kemasan 100 gram.

garam amed

Selain pariwisata bahari, proses pembuatan garam Amed menjadi pemandangan menarik bagi setiap wisatawan yang berjalan – jalan di pesisir pantai Amed. Keunikan cara pembuatan dan alat – alat yang digunakan masih sangat sederhana. Menurut I Nyoman Patra Gunawan, garam Amed akan dijadikan oleh – oleh khas Amed. “Oleh – oleh khas yang sayang untuk tidak dibeli,” ujarnya.

anak-anak garam amed

Garam Amed juga membuka peluang bagi anak – anak yang mencari uang jajan tambahan. Mereka menjajakan garam Amed dengan wadah yang unik bagi wisatawan. Secara tidak langsung anak – anak ini juga membantu memperkenalkan garam Amed kepada wisatawan.

Oleh : Tirta Noviyanti, Pewarta Warga Amed

 

 

Komentar

Komentar

x

Check Also

Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

“ Pada tahun 1963 saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Waktu itu saya menjadi angkatan kedua di SD 1 Purwakerthi,” tutur I Made Badung, saksi sejarah saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Sebelum meletus, para pengungsi sudah berdatangan dari Desa Datah dengan berjalan kaki, karena dulu akses transportasi belum secanggih ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow