Home / Berita Terkait / Garam Amed Masyhur di Dunia, Terlupakan di Indonesia

Garam Amed Masyhur di Dunia, Terlupakan di Indonesia

Metrotvnews.com, Denpasar: Garam Amed merupakan salah satu garam di Indonesia yang namanya sudah mendunia. Namun sayang, eksistensinya tidak mendapat perhatian penuh oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Garam Amed cukup masyhur di Eropa, karena memiliki kualitas terbaik dibanding garam di negara lain seperti Prancis, India, dan Australia. Seorang profesor di bidang garam dari Prancis, Charles Peraud, meneliti secara mendalam tentang keunggulan garam dari Pantai Amed, Karangasem tersebut pada 2015.

Hasilnya cukup mencengangkan. Setelah selama puluhan tahun dia mencermati garam di seluruh dunia, hanya garam dari Amed ini yang memiliki tekstur bagus, wanginya seperti kelapa, dan kadar kimianya hampir tidak ada. Hal itu disebabkan oleh para penambak garam di Amed, Karangasem ini masih menggunakan cara tradisional dalam membuat garam.

“Dua tahun lalu, ada peneliti dari Prancis datang, dia bilang garam ini terbaik yang pernah saya temui, dibanding di negaranya yang juga ada garam, di Amed ini jauh lebih baik. Sebelum dia datang, katanya sudah membawa sampel garam di sini, dan hasilnya sangat baik. Ini membuat kami bangga,” ungkap salah satu petani di Amed Karangasem yang juga ketua petani garam I Nengah Suanda kepada Metrotvnews.com di lokasi, Karangasem, Kamis, 20 Juli 2017.

I Nengah Suanda memaparkan bahwa saat ini para penambak garam kesulitan untuk memperdagangkan garamnya kepada masyarakat lantaran tidak memiliki izin dari pemerintah maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal itu karena garam di Bali tidak hanya memiliki unsur yodium di dalamnya, sedangkan standar garam di Indonesia harus memiliki kadar yodasi dan natrium chlorida sebanyak 94 persen.

“Karena kita juga enggak mau pakai kimia itu, di samping berbahaya nanti limbahnya tidak bagus untuk lingkungan, makanya kami pertahankan natural salt ini. Kendalanya ya itu tidak bisa dipasarkan secara bebas, karena belum ada sertifikat dari pemerintah,” tambahnya.

Penambak Garam Amed / Foto oleh Raiza Andini

Salah satu pemerhati garam dari Conservation Internasional I Made Iwan Dewantama memaparkan bahwa garam Amed disebut istimewa di mata dunia lantaran lingkungan di sekitarnya sangat bersih dan air lautnya pun belum tercemar. Namun, dia menyayangkan pemerintah tidak memberikan perhatian terhadap garam di Amed serta beberapa wilayah di Bali, pada saat dunia konsen terhadap garam di Bali.

“Seharusnya pemerintah tidak perlu lagi impor garam, Bali sebetulnya mampu menyediakan garam untuk kebutuhan Bali. Sehingga kita tidak perlu lagi garam dari luar Bali apalagi impor,” jelas Iwan.

Wilayah pesisir Bali yang menjadi daya tarik pariwisata mengancam industri garam di beberapa wilayah salah satunya di Amed. Banyak investor yang membangun penginapan dan juga restoran di atas lahan produksi garam di Pantai Amed. Hal itu, membuat produksi garam di Bali sangat minim lantaran lahannya telah tergerus oleh bangunan.

Pada 2000, lahan garam Amed di Desa Purwakerti mencapai 18,07 hektare (ha) kemudian menyusut menjadi 1,2 ha pada tahun ini. Hal itu disebabkan banyak penambak garam yang miskin menjual tanahnya kepada investor untuk dijadikan penginapan.

“Faktanya banyak investasi di pesisir lahan garam jadi tersingkir, dan data kami sangat jelas,” katanya.

Sementara itu, Kadis KKP Provinsi Bali I Made Gunaja menjelaskan bahwa lahan penambak garam di Amed menjadi rebutan antara pihak pariwisata atau garam. Dia juga membenarkan bahwa mayoritas garam di Bali tidak memiliki kadar yodium sehingga kesulitan untuk mendapatkan sertifikat dari pemerintah untuk diperdagangkan secara massal.

“Ini dilema ya, pertama garam indikasi geografis dari sisi bentuk dari sisi rasa terutama sangat memadai tapi dari sisi kandungan yodium belum memadai lebih kecil dari standar yang telah ditetapkan. Sekarang tantangannya membuat garam beryodium tapi enak itu yang jadi tantangan kita saat ini,” tandasnya.

 

Sumber : metrotvnews.com

Penulis : Raiza Andini

Komentar

Komentar

x

Check Also

Sering Dijadikan Tempat Bertelur, Penyu Hijau Jadi Ikon Baru Pantai Candidasa

AMLAPURA, BALIPOST.com – Tukik penyu hijau terus bermunculan di Pantai Candidasa, Desa Bugbug. Terbaru, puluhan tukik serupa kembali ditemukan di lokasi yang sama persis di pantai berpasir putih itu, di sekitar Hotel Puri Bagus Candidasa. Tukik-tukik itu kemudian langsung di lepas prajuru Desa Adat Bugbug bersama BKSDA Karangasem dan Sat ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow