Home / Bali / Ketut Narti Tidak akan Menjual Lahan Rumput Lautnya

Ketut Narti Tidak akan Menjual Lahan Rumput Lautnya

Ombak yang stabil dan cuaca cerah Minggu, 29 Desember 2013 adalah kesempatan bagus bagi petani rumput laut mengurus lahannya. Mengikat bibit, menanam dan memanen rumput laut menjadi rutinitas di sepanjang pesisir Dusun Batu Mulapan, Nusa Penida. Ketut Narti saat akan mengambil ikatan rumput laut yang akan ditanam di lahannya Dusun Batu Mulapan Ketut Narti misalnya. Wanita berumur 35 tahun ini telah menggantungkan hidupnya dengan bertani rumput laut selama lebih dari dua dekade. Sejak remaja sampai kini menjadi janda. Meski lahannya sempat ditawar seharga 15 juta rupiah per are (100 meter persegi), dirinya tetap setia dan gigih dalam pekerjaan yang bergantung alam ini. Pekerjaan menjadi petani rumput laut tetap dijalaninya walau sudah ditinggal suaminya. Ketut Narti menceritakan bahwa suaminya meninggal sekitar 20 hari yang lalu akibat sakit. “Kini saya hidup sendiri dan tidak mempunyai anak. Saya terbiasa hidup dan bekerja sendiri,” ceritanya sambil sesekali memasang bibit rumput laut pada patok di lahannya.

Kini di lahan rumput laut seluas 2 are miliknya, Ketut Narti menjaga penopang kebutuhan hidupnya. Sehari-hari berkutat dengan bulung gadang yang juga ditanam rekan “seprofesi” di sekeliling lahannya. “Akhirnya sekarang punya lahan sendiri walaupun sedikit. Lahan ini tidak mau saya jual. Tempatnya bagus, hasil rumput lautnya bagus. Pemandangannya juga bagus,” ungkapnya. Di lahan seluas 2 are di Dusun Batu Mulapan, Ketut Narti menanam rumput laut yang biasa disebut bulung gadang. “Awalnya saya bekerja membantu orang tua yang juga petani rumput laut. Dulu lahan kami di sebelah barat Dusun Batu Mulapan,” ujarnya. Sejak berusia 15 tahun Ketut Narti memang sudah akrab dengan urusan rumput laut. Menjadi buruh rumput laut sempat dilakoninya di daerah Jungutbatu, Nusa Lembongan.

Nusa Lembongan memang terkenal sebagai daerah budidaya rumput laut di wilayah Kecamatan Nusa Penida. Rumput laut hasil panen kemudian dikeringkan. Sampai siap dijual ke pengepul. Ada pula yang memanfaatkan rumput laut sebagai makanan olahan seperti kerupuk, dodol dan bolu. “Waktu ini saya jual dapat dua juta, 4 karung kecil. Harganya sekitar 13.500 rupiah per kilogram. Uangnya untuk membeli sembako,” ujarnya. Hasil panen rumput laut yang dijemur di pinggir jalan Desa Ped Bergantung pada alam dan waktu membuat pekerjaan ini tidak selamanya mulus. Musim hujan bagi Ketut Narti menjadi kendala dalam bertani rumput laut. “Hasil panen lebih sedikit. Selama ini saya tidak pernah beli bibit, selalu pakai bibit dari lahan sendiri,” kata petani asal Dusun Batu Mulapan ini sambil menunjuk bibit yang akan ditanamnya.

Ditulis oleh: Ni Putu Ary Pratiwi, Peserta Melali Nyegara Gunung 2013

Komentar

Komentar

x

Check Also

Hasil Pemantauan Ekosistem Terumbu Karang tahun 2020 Kawasan Tulamben dan Amed

Pandemi Covid19 telah menyebabkan ditutupnya aktivitas wisata menyelam di kawasan Tulamben dan Amed sejak awal April 2020. Aktivitas penyelaman bisa dikatakan hampir tidak ada di dua kawasan tersebut selama 2 bulan terakhir, walau ada 1-2 aktivitas penyelaman yang berlangsung di kawasan Amed hingga Bunutan. Pandemi ini merupakan kejadian luar biasa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow