Home / Bali / Monopoli Harga oleh Pengepul, Dilema Petani Rumput Laut Nusa Penida

Monopoli Harga oleh Pengepul, Dilema Petani Rumput Laut Nusa Penida

Dari 308 ha area budidaya rumput laut di Nusa Penida dapat memproduksi rata-rata 500 ton/tahun. Bisa jadi para pengepul akan memperkuat kekuasaan mereka dan posisi tawar para petani ini semakin lemah bahkan tertindas. 20131228_143609[2] Setelah sempat diguyur hujan dua hari berturut-turut di akhir Desember, hari itu matahari bersinar terik. Para petani budidaya rumput laut pun mulai menjemur rumput laut di halaman rumah mereka masing-masing. Di sebuah teras rumah, duduklah Nyoman Kita, seorang petani budidaya rumput laut dari Dusun Sental Kawan, Desa Ped, Nusa Penida. Tiupan semilir angin dan suara ombak terdengar jelas dari balik teras rumah semi permanen ini. Nyoman Kita pun mulai bercerita tentang asal mula dirinya bekerja sebagai petani budidaya rumput laut “Sekitar tahun 80-an, Pak Tarsin membawa bibit rumput laut dari Lembongan, kemudian mengajarkan warga untuk menanam rumput laut. Lahan ini pun diwariskan dari bapak, sudah 13 tahun saya menjadi petani rumput laut,” paparnya.

Dimulai dari usulan inisiatif yang berasal dari orang perseorangan, kelompok masyarakat, lembaga penelitian, hingga LSM kawasan perairan yang melingkari Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan ditetapkan menjadi kawasan perairan yang dilindungi. Nama kawasan lindung ini adalah Kawasan Konservasi Perairan disingkat KKP Nusa Penida. Prinsip kerja KKP ini didasarkan pada tiga kriteria utama yaitu: ekologi; sosial dan budaya; serta ekonomi, tanpa melarang aktifitas mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut. Konsep konservasi (dalam konteks KKP, red.) ini menekankan pada aspek pengelolaan yang berkelanjutan. Camera 360

Lalu bagaimanakah nasib para petani budidaya rumput laut di Nusa Penida ini? Apakah konsep KKP telah membawa hasil positif pada mereka? Dari observasi di lapangan, masalah yang masih menjadi pikiran petani adalah ketidakpastian harga rumput laut karena harga diatur pengepul. Nyoman Kita menjelaskan untuk satu are (100 meter persegi) lahan bisa menghasilkan 120 kilogram rumput laut dengan harga sekitar Rp 4,400 rupiah/kg.  Dalam satu bulan ia panen dua kali. “Silakan hitung sendiri berapa penghasilan saya,” ujar pria ini. Sayangnya, lebih sering para petani ini merugi saat harga rumput laut turun drastis. Dengan penghasilan yang minim belum lagi mereka harus membeli bibit rumput laut, para petani ini tidak bisa menentukan harga jual karena kekuasaan menentukan harga masih dipegang sepenuhnya oleh pengepul. “Sejak dahulu kita sudah mengajukan hal ini, bagaimana pemerintah bisa ikut campur dalam harga rumput laut agar nasib para petani ini tidak berada sepenuhnya di tangan pengepul tapi pemerintah tidak bisa,” jelas Kita.

I Ketut Pesta, calon anggota DPD RI dari Nusa Penida, Kabupaten Klungkung mengatakan para petani juga memikirkan bagaimana para pengepul tidak sakit hati apabila pemerintah yang menetapkan harga. “Hal inilah menurutnya yang masih menjadi perdebatan,” katanya. Apabila para petani rumput laut ini harus menunggu perdebatan yang tiada kunjung usai, berapa lama lagi mereka harus menunggu? Dikutip dari Lembaga Kantor Berita Antara, dari 308 ha area budidaya rumput laut di Nusa Penida dapat memproduksi rata-rata 500 ton/tahun. Bisa jadi para pengepul akan memperkuat kekuasaan mereka dan posisi tawar para petani ini semakin lemah bahkan tertindas. “Pernah dahulu harga rumput laut cuma Rp 200 rupiah per kg.  Kalau sudah begini kami bisa apa, daripada rumput laut tidak laku,” tandas Nyoman Kita.

Komentar

Komentar

x

Check Also

Bergerak dari Desa Dukung Pengelolaan KKP Karangasem

Desa Tulamben sukses mengalokasikan anggaran desa untuk konservasi pesisir dan laut dengan pembuatan hexadome (rumah ikan buatan-red). Sementara Desa Bunutan baru saja menetapkan Peraturan Desa (Perdes) No. 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Pesisir Desa Bunutan tertanggal 27 Agustus 2019. Inisiatif menarik juga muncul dari Pokmaswas Tirta Segara Labuan Amuk, Desa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow