Home / Bali / Pelatihan Selam di Teluk Jemeluk: ‘Keroyokan’ Untuk Pengelolaan Kawasan yang Lebih Baik

Pelatihan Selam di Teluk Jemeluk: ‘Keroyokan’ Untuk Pengelolaan Kawasan yang Lebih Baik

Pelatihan selam ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan wilayah perairan yang diinisiasi oleh masyarakat lokal -khususnya untuk kegiatan pemantauan di bawah air, yang merupakan salah satu aktifitas penting untuk menilai efektifitas pengelolaan suatu kawasan. Kajian Cepat Kondisi Kelautan Provinsi Bali (Disusun bersama-sama oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali, Balai Riset dan Observasi Kelautan Bali, Universitas Warmadewa dan Conservation International Indonesia) yang rampung pada tahun 2011 lalu menyatakan bahwa wilayah perairan Kabupaten Karangasem merupakan salah satu kawasan dengan nilai konservasi yang paling tinggi di Pulau Dewata.

Peserta 2

Peserta dan fasilitator pelatihan dan sertifikasi selam berpose sebelum Sesi Kelas dimulai

Selain aktifitas perikanan, bersama-sama dengan Nusa Penida (Kabupaten Klungkung) dan Pulau Menjangan (Taman Nasional Bali Barat), Karangasem berkembang menjadi salah satu destinasi penyelaman utama di Bali. Dengan setidak-tidaknya 21 titik penyelaman yang tersebar di Desa Padang Bai hingga Desa Kubu, tidak mengherankan apabila kegiatan pariwisata di Karangasem tumbuh dengan sedemikian pesatnya. Namun demikian, sebuah aset perikanan dan pariwisata memerlukan suatu pengelolaan kawasan yang apik dan berkelanjutan.

Peserta 1

Peserta dan fasilitator pelatihan dan sertifikasi selam berpose sebelum mengikuti Sesi Perairan Terbatas (Confined Water)

Sesi Kelas 2

Peserta memperhatikan penjabaran Asisten Instruktur mengenai fungsi dan cara memasang alat selam

Ujian 1

Peserta sedang mengerjakan soal-soal dalam ujian tertulis

Sesi Kelas 1

Suasana ketika Sesi Kelas sedang berlangsung

Proses yang sedang berjalan terkait pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kabupaten Karangasem menyiratkan upaya-upaya menuju pengelolaan kawasan yang didasari atas prinsip-prinsip keberlanjutan atau sustainability –khususnya kawasan pesisir. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemerintah Kecamatan Abang bekerja sama dengan Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI), Conservation International (CI) Indonesia, Coral Reef Alliance (CORAL) dan beberapa operator selam lokal, menggagas sebuah pelatihan dan sertifikasi selam yang diperuntukan bagi

Sesi Confined Water 1

Peserta mempraktikan beberapa skill dalam Sesi Perairan Terbatas (Confined Water)

masyarakat lokal dan perwakilan instansi pemerintah pada 19 hingga 21 Desember 2013 lalu. Pelatihan dan sertifikasi selam dengan tajuk “Memperkuat Pengawasan Berbasis Masyarakat Dalam Pengelolaan Pesisir” ini diikuti oleh tujuh pemuda yang berasal dari Banjar Jemeluk dan Biaslantang. Selain pemuda setempat, kegiatan ini juga menyertakan 2 peserta dari Dinas Kelautan, Peternakan dan Perikanan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem. “Keterlibatan pemerintah diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan yang saat ini sedang dibangun oleh masyarakat,” tegas I Made Jaya Ratha (Jaya) dari CI Indonesia.

SEA&SEA 1200HD

Asisten Instruktur memberikan contoh mengenai skill tertentu dalam Sesi Perairan Terbatas (Confined Water)

Secara strategis, pelatihan selam ini merupakan proyeksi mengenai upaya-upaya terkait pengelolaan kawasan di Amed yang –melalui KKP Kabupaten Karangasem, tidak bisa tidak, haruslah dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan tidak hanya masyarakat lokal dan pemerintah semata,

Sesi Open Water 1

Peserta, Instruktur dan Asisten Instruktur dalam Sesi Perairan Terbuka (Open Water)

namun juga pelaku industri pariwisata yang, selain memberikan kontribusi di bidang ekonomi daerah, juga turut berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan tempat mereka berada. Dalam kesempatan kali ini, Diver’s Café Amed  bertindak sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini, sementara kebutuhan logistik seperti tenaga profesional (Divemaster), tabung dan peralatan selam dipinjamkan secara cuma-cuma oleh Bali Reef Divers, Eco Dive Bali, Euro Dive Bali dan Jukung Dive Bali. “Melalui kegiatan ini dive operator memberikan kontribusi yang nyata (terhadap upaya menuju pengelolaan kawasan, red.), dan diharapkan lebih banyak lagi yang semakin peduli terhadap lingkungan. Saya yakin mereka punya kepedulian terhadap Amed,” ujar Andi Afriandi (Andi) dari YRCI. Di hari pertama, para peserta mengikuti Sesi Kelas yang berisikan semua teori dan skill terkait, termasuk aspek keamanan dan juga bahaya yang mungkin terjadi dalam Scuba Diving. Sesi Kelas dilanjutkan dengan Sesi Perairan Terbatas (Confined Water Session, ed.) untuk mempraktikan langsung sebagian dari apa yang diperoleh dari sesi sebelumnya di kedalaman 3 hingga 5 meter. Hari kedua diisi dengan tiga sesi penyelaman open water, dan hari ketiga satu sesi penyelaman open water sebelum ditutup dengan ujian tertulis. “Pelatihan selam ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan wilayah perairan yang sedang diinisiasi secara lokal, khususnya untuk (kegiatan, ed.) pemantauan di bawah air. Monitoring sangat penting untuk menentukan efektifitas pengelolaan kawasan.” ungkap Jaya. Kegiatan monitoring terumbu karang memang salah satu upaya yang secara rutin telah dilakukan di sana semenjak tahun 2010, terutama pasca terjadinya pemutihan karang yang massif (coral bleaching) pada tahun 2009. “Ke depannya, kami berharap masyarakatlah yang akan melakukan pemantauan dan pelaporan terkait dengan kondisi terumbu karang di sini,” tambah Andi.

Komentar

Komentar

x

Check Also

Bergerak dari Desa Dukung Pengelolaan KKP Karangasem

Desa Tulamben sukses mengalokasikan anggaran desa untuk konservasi pesisir dan laut dengan pembuatan hexadome (rumah ikan buatan-red). Sementara Desa Bunutan baru saja menetapkan Peraturan Desa (Perdes) No. 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Pesisir Desa Bunutan tertanggal 27 Agustus 2019. Inisiatif menarik juga muncul dari Pokmaswas Tirta Segara Labuan Amuk, Desa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow