Home / Bali / Perjalanan Impian ke Nusa Penida

Perjalanan Impian ke Nusa Penida

20131228_075611[1]

Kenapa saya bilang impian? Dahulu saya sangat memimpikan untuk dapat berkunjung ke Nusa Penida dengan satu tujuan yakni mengunjungi sebuah tempat suci tersohor dan telah dikunjungi ‘sejuta umat’ bernama Pura Dalem Ped. Warga dari segala penjuru daerah berlomba mengunjungi tempat ini dan ini menjadikannya sebuah wisata dan objek spiritual yang khas di Nusa Penida.

Kunjungan saya yang kedua ini ke Nusa Penida ikut (kegiatan, red.) “Melali Nyegara Gunung” dari Sloka Institute dan Conservation International (CI) Indonesia, yakni sebuah program jalan-jalan di Nusa Penida agar kita bisa memberitakan pulau ini dari berbagai sisi baik industri, spiritual, kuliner, dan sebagainya dengan cara kita sendiri. Saya kebagian menulis tentang wisata spiritual, dan Pura Dalem Ped merupakan sumber berita yang ingin saya liput.

Pura Dalem Ped adalah salah satu Pura Khayangan Jagat. Pura ini adalah tempat pemujaan Ratu Ayu Mas Mecaling. Prosesi persembahyangan di pura ini juga melalui sebuah proses atau rentetan persembahyangan di empat tempat. Jangan khawatir, di Jaba Sisi (halaman luar pura) terdapat petunjuk rute persembahyangan bagi para pemedek (pemuja).

CIBDS20120914_4604Untuk pemujaan pertama, kita diarahkan menuju Pura Segara, yang di dalamnya terdapat patung Gajah Mina yang berbadan ikan dan berbelalai seperti gajah. Gajah ini dipercaya sebagai kendaraan Dewa Baruna -dewa penguasa lautan. (Ritual persembahyangan, red.) Kemudian dilanjutkan dengan Pura Taman, kedua pura ini berada di urutan pertama dengan tujuan agar para umat bisa melakukan pembersihan (hati dan pikiran) sebelum menyembah Ratu Gede dan Ratu Mas. (Ritual persembahyangan, red.) Kemudian dilanjutkan dengan nangkil (kunjungan untuk sembahyang) ke Pura Ratu Gede, dan terakhir Pura Penataran Agung tempat berstananya Ratu Mas Ayu Mecaling.

Pada hari–hari tertentu seperti Purnama, pura ini penuh dikunjungi oleh para pemedek dari berbagai daerah, sedangkan untuk piodalan-nya (puncak upacara) sendiri berlangsung pada hari Budha Cemeng Klawu. Biasanya saat piodalan Ratu Betara akan nyejer (berturut-turut) (selama, red.) lima hari untuk memberikan kesempatan kepada warga lain di luar pulau untuk datang dan melakukan persembahyangan.

Mangku Wayan Suasta, salah satu dari 34 Mangku di pura ini menuturkan tujuan utama para umat datang ke pura ini selain memohon perlindungan juga (untuk, red.) melakukan pengobatan. Kawasan pura ini juga dilengkapi dengan Wantilan (balai yang berukuran cukup besar yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan atau sebagai lokasi kegiatan, red.) tempat para umat beristirahat sejenak dari perjalanan jauh, dan di salah satu pojok ruangan terdapat ruang Usadha (pengobatan). Sayangnya saat kunjungan saya kali ini, saya tidak melihat aktivitas pengobatan sehingga tidak mendapatkan informasi dan fakta yang jelas (mengenai, red.) metode pengobatan yang dipakai.

Kesan pertama memasuki kawasan pura ini adalah Pura yang cukup mewah dan tertata dengan baik, renovasi terhadap kawasan pura ini bersifat berkelanjutan dan berlangsung dari tahun ke tahun. Menurut penuturan salah satu tokoh spiritual di Nusa Penida, Ketut Pesta, nilai kesakralan Pura berkurang karena makin modern. Tapi ini tidak menyurutkan para pemedek terus datang.

Ditulis oleh: Ni Nyoman Suprastini, Peserta Melali Nyegara Gunung 2013 

Komentar

Komentar

x

Check Also

Bergerak dari Desa Dukung Pengelolaan KKP Karangasem

Desa Tulamben sukses mengalokasikan anggaran desa untuk konservasi pesisir dan laut dengan pembuatan hexadome (rumah ikan buatan-red). Sementara Desa Bunutan baru saja menetapkan Peraturan Desa (Perdes) No. 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Pesisir Desa Bunutan tertanggal 27 Agustus 2019. Inisiatif menarik juga muncul dari Pokmaswas Tirta Segara Labuan Amuk, Desa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow