Home / Cerita Lapangan / Tiga Hari di Bunutan dan Tulamben

Tiga Hari di Bunutan dan Tulamben

Hari-1 Penimbangan Sampah

Nama saya Adesta Sheila Karolin, mahasiswa International Women University yang sedang menjalankan internship di CI Indonesia. Di minggu ke-3 internship, saya mendapatan kesempatan untuk turun ke lapangan bersama teman magang bernama Ayu, dan satu orang mentor saya dari CI. Rencananya kami akan pergi ke Tulamben dan Bunutan untuk melakukan beberapa kegiatan seperti penimbangan sampah dan evaluasi program SIDESI (Sistem Informasi Desa Konservasi). SIDESI merupakan program hasil implementasi dari UU Desa dengan melalui pengembangan sistem informasi desa dan penerapan prinsip-prinsip konservasi. Dari dua desa tersebut saya mendapat bagian untuk melakukan evaluasi SIDESI di Desa Bunutan. Kami menempuh waktu sekitar 2.5 jam dari Denpasar menuju Tulamben. Perjalanan cukup menyenangkan karena pemandangan alam akan kita temui di tiap titik yang kita lewati.

Agenda hari itu saya dan Ayu akan mengikuti kegiatan menimbang hasil produksi sampah rumah tangga bersama mentor saya di CI, beberapa Tim SIDESI dan warga di beberapa dusun di Desa Tulamben. Sampah-sampah tersebut sebelumnya sudah dipisahkan antara organik dan anorganik agar nantinya lebih mudah dalam mengklasifikasikan jenisnya. Data yang didapatkan dari survei ini nantinya akan digunakan pemdes Tulamben untuk membuat kebijakan dan rencana kelola sampah desa.

Hari-2 Evaluasi Program SIDESI di Bunutan dan Menyebrangi ‘Sungai Dadakan’

Rabu siang saya dijadwalkan untuk bertemu pak Perbekel (Kepala Desa) Bunutan dan beberapa pemdes serta tim SIDESI. Hari itu rencananya saya akan melakukan sesi wawancara terkait implementasi program SIDESI. Berhubung hotel saya di Amed, maka lebih baik jika saya mengendarai sepeda motor menuju kantor kepala desa. Selain lebih efektif dari segi waktu dan biaya, pemandangan indah juga akan kita temui sepanjang rute Amed – Bunutan.

Sesampainya di kantor, saya dipersilakan duduk dan menunggu para staf desa yang sedang rapat. Hampir satu jam lamanya saya menunggu sebelum akhirnya saya bertemu dengan mereka dan melakukan wawancara. Beberapa hasil dari wawancara tentang program SIDESI di Bunutan ternyata sudah terbit peta terbaru hasil kegiatan pemetaan partisipatif yang telah disepakati oleh pihak-pihak terkait, kemudian ada pelatihan pewarta desa, serta sudah beroperasinya website desa Bunutan yang berisi tentang informasi desa.

Wawancara kala itu tidak berlangsung terlalu lama, kurang dari dua jam sebelum akhirnya hujan turun amat deras dan kabarnya memutus jalan Bunutan-Amed. Benar saja, ketika saya hendak pulang ke hotel, di salah satu titik jalan Amed terputus. Walhasil terjadi macet panjang mengingat Amed merupakan salah satu wisata kondang di Bali yang ramai dikunjungi wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Sehingga dengan adanya kejadian banjir ini akhirnya saya dan puluhan pengendara lain harus menunggu lebih dari satu jam untuk dapat mengakses jalan yang putus akibat banjir tersebut. Lelah menunggu, dibantu oleh beberapa orang di seberang jalan, akhirnya saya memutuskan untuk menyebrangi ‘sungai dadakan’ itu yang ternyata dalamnya lebih dari 50cm. Menurut penduduk setempat, banjir kali ini merupakan yang terparah yang pernah terjadi di titik tersebut. Sudah beberapa kali kejadian banjir semacam ini diadukan kepada pemerintah namun belum ada feedback dari pemerintah terkait penyelesaian permasalahan ini.

Hari-3 Explore USAT Wreck Liberty Tulamben

Kamis pagi yang cukup terik mengawali perjalanan saya dari Amed ke Bunutan untuk melengkapi wawancara beberapa warga desa Bunutan sebelum akhirnya saya kembali ke Tulamben. Perjalanan ke Tulamben dari Amed memakan waktu sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor. Sesampainya di Tulamben, saya menemani Ayu untuk melakukan wawancara kepada beberapa warga Tulamben di sekitar pantai. Saya duduk ditepian pantai sambil mengamati para turis yang akan melakukan kegiatan diving. Melihat antusiasme turis yang datang membuat saya teringat akan pentingnya kebijakan zonasi pantai baik itu di Tulamben maupun di Bunutan. Ternyata amat penting peran kebijakan zonasi pantai agar terdapat tata kelola laut yang jelas, baik itu untuk kebutuhan wisata (diving dan snorkeling), memancing, dan aktifitas lainnya.

Belum lengkap rasanya datang ke Tulamben jika belum melakukan aktivitas seperti diving atau snorkeling. Namun tak lupa ada beberapa aturan tentang apa yang tidak boleh dilakukan ketika beraktifitas di pantai. Setelah negosiasi harga akhirnya saya sepakat untuk snorkeling di area kapal karam USS Liberty yang konon katanya sempat ditorpedo oleh kapal selam Jepang di tahun 1942. Menurut bapak guide, kegiatan snorkeling/diving di area kapal karam ini cukup terkenal di antara para penyelam, walau begitu ini cukup asing bagi saya. Ini akan menjadi kesempatan bagus untuk sekadar menyaksikan dengan mata kepala sendiri wujud bangkai kapal tersebut serta keindahan bawah lautnya.

Secara keseluruhan, kegiatan saya selama tiga hari dua malam di Tulamben dan Bunutan menjadi pengalaman yang luar biasa. Saya ikut berbaur dengan masyarakat di Tulamben ketika melakukan kegiatan penimbangan sampah, saya dapat mengetahui sejauh mana implementasi program SIDESI di Desa Bunutan, saya menyaksikan gotong royong warga ketika membantu orang-orang menyebrangi ‘sungai dadakan’ di jalan Amed sepulang wawancara, dan saya melihat langsung keindahan bawah laut Tulamben. Akhir kata, potensi wisata yang menarik memang sudah seharusnya dijaga kealamiannya. Bukan hanya sekadar kearifan lokalnya, tapi juga cara pengelolaannya yang konservatif agar menjadikan pariwisata yang berkelanjutan. Inilah tugas kita semua, baik dari pemdes, masyarakat setempat, pengelola pariwisata, CI, maupun pengunjung yang datang untuk menjaga alam. Seperti kutipan menarik dari CI, Because nature doesn’t need people. People need nature.

Oleh : Adesta Sheila Karolin

Komentar

Komentar

x

Check Also

Pemantauan Bibit Pohon Reforestasi di Desa Dukuh

Conservation International (CI) Indonesia berkolaborasi dengan Kelompok Tani Jambangan melakukan pemantauan bibit pohon yang ditanam selama musim hujan terakhir sekitar bulan Desember-Maret di areal hutan desa Dukuh. Beberapa jenis bibit yang ditanam yaitu mahoni, murbei, bambu, beringin dan pule. Jenis bibit yang ditanam telah melalui proses diskusi dengan Kelompok Tani ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow