Home / Bali / Wisata Spiritual Pura Penataran Agung Ped

Wisata Spiritual Pura Penataran Agung Ped

IMG_1580Nusa Penida Adalah Tujuan Wisata Religi Terkenal di Bali
Kabupaten Klungkung terdiri dari empat kecamatan, salah satunya Kecamatan Nusa Penida; kecamatan yang berbentuk kepulauan. Ada tiga pulau cukup besar di kecamatan ini yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Ceningan.
Nusa Penida memilki banyak objek wisata. Salah satunya (yang bertemakan, red.) wisata spiritual. Wisata spiritual ini diminati oleh banyak pengunjung dari Bali daratan. Bahkan umat Hindu dari Lombok dan Pulau Jawa pun ada yang berkunjung ke Nusa Penida.
Di Pulau Nusa Penida, tepatnya di Desa Ped, berdiri sebuah kompleks Pura Kahyangan Jagat, (yang nilai spritualnya, red.) bahkan sampai diakui oleh kalangan Hindu di Bali maupun luar Bali. Pura Dalem Ped, begitu masyarakat menyebutnya.

IMG_1651

Berdiri megah (berjarak, red.) 50 meter dari kawasan pantai menjadikan pura ini selalu dipadati pemedek (umat) untuk memohon keselamatan. Selain dari kenyamanan dan faktor alam yang mendukung, juga karena ‘getaran’ spiritual yang menyelimuti kawasan Pura.
Banyak masyarakat dari berbagai penjuru arah nangkil (kunjungan untuk melakukan persembahyangan, red.) untuk mendapatkan kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan. Hingga saat ini, Pura ini sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang paling digandrungi.

IMG_1667Nama sebenarnya dari pura tersebut adalah Pura Penataran Agung Ped. Walaupun ada yang menyebutkan pura itu dengan sebutan Pura Dalem, yang dimaksud bukanlah ‘Pura Dalem’ yang merupakan bagian dari Tri Kahyangan (Puseh, Dalem dan Bale Agung), melainkan ‘Dalem’ untuk sebutan Raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. ‘Dalem’ atau ‘Raja’ dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling. Odalan (upacara besar atau utama) di Pura ini adalah Budha Cemeng Klawu.

Pura Penataran Agung Ped Menyatu Dalam Satu Areal yang Terdiri dari Beberapa Pura
Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai, di mana terdapat pohon besar yang berdiri di sebelah timur pura. Pura Segara ini akan dikunjungi lebih awal oleh pemedek  dalam proses persembahyangan. Menurut salah satu pemangku, Made Reka, Pura Segara ini adalah pemelukat pertama atau pembersih pertama sebelum bersembahyang ke Penataran Agung Ped.
Beberapa meter mengarah ke selatan dari Pura Segara, ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih dan patung naga yang melilit dari tangga masuk sampai ke pura utama yang ada di dalam. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian atau pembersihan kedua.
Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Ratu Gede Mecaling merupakan penjaga keselamatan umat, kesehatan serta kemakmuran.
 

IMG_1582Setelah itu persembahyangan dilanjutkan ke sebelah timurnya Ratu Gede, yaitu Penataran Agung Ped yang merupakan tempat berstananya Ratu Mas Mecaling. Di jaba (dalam konteks tulisan ini ‘jaba’ merupakan istilah arsitektural Bali yang merujuk kepada pembagian ruang dalam suatu struktur bangunan, red.) tengahnya ada Bale Agung yang merupakan linggih (dalam konteks tulisan ini ‘linggih’ dapat diartikan sebagai Tempat Persemayaman, red.) Batara-batara pada waktu ngusaba (dalam konteks tulisan ini, ‘ngusaba‘ dapat diartikan sebagai upacara keagamaan yang sedang berlangsung, red.).

Selain itu, di posisi jaba ada sebuah Wantilan (balai yang berukuran cukup besar yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan atau lokasi kegiatan, red.) yang sudah berbentuk bangunan balai banjar yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian dan tempat menginap (mekemit) bagi para pamedek yang datang dari luar pulau Nusa Penida.

Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran sejak 2002. Semenjak pembangunan yang dilakukan besar-besaran, yang berdiri sekarang hanyalah besi, beton dan paras putih, yang sebenarnya ‘mengurangi’ kerelegiusan pura tersebut. Meskipun kesan keramat mulai menipis akibat dari efek pembangunan tersebut, namun kekeramatannya diyakini sudah tercipta sejak awal keberadaan pura tersebut.

Ditulis oleh: Osila, Pewarta Warga dan Peserta Melali Nyegara Gunung 2013

Komentar

Komentar

x

Check Also

Bergerak dari Desa Dukung Pengelolaan KKP Karangasem

Desa Tulamben sukses mengalokasikan anggaran desa untuk konservasi pesisir dan laut dengan pembuatan hexadome (rumah ikan buatan-red). Sementara Desa Bunutan baru saja menetapkan Peraturan Desa (Perdes) No. 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Pesisir Desa Bunutan tertanggal 27 Agustus 2019. Inisiatif menarik juga muncul dari Pokmaswas Tirta Segara Labuan Amuk, Desa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow