Home / Bali / Kearifan Lokal Warga Bali Jadi Fondasi Kuat

Kearifan Lokal Warga Bali Jadi Fondasi Kuat

DENPASAR, KOMPAS – Masyarakat di Bali memiliki kekuatan kearifan dalam mengelola terumbu karang. Kolaborasi hokum adat dan aturan hokum formal menjadi modal perlindungan ekosistem terumbu karang yang jadi penyangga keberlanjutan pariwisata bahari di Pulau Dewata.

Hal itu mengemuka dalam diskusi terfokus “Peran Budaya Masyarakat Bali demi Lestarinya Terumbu Karang Pulau Bali” yang diselenggarakan Conservation International Indonesia di Kantor Perwakilan Kompas di Denpasar, Bali, Kamis (13/07).

Diskusi dihadiri Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali I Made Gunaja, Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Denpasar Suko Wardono, beberapa akademisi biologi laut, serta para praktisi dan aktivis konservasi karang.

Gunaja mencontohkan pelaksanaan Parahyangan (hubungan harmonis antara manusai dan San Pencipta) di wilayah Badung sesuai kepercayaan masyarakat setempat, Pura Segara mengatur kehidupan dan perilaku masyarakat hingga di laut.

Jaya Ratha dari Coral Alliance mengatakan, beberapa waktu lalu, masyarakat adat Jemeluk, Karangasem, menghukum warga yang mengambil akar bahar dari laut dengan denda adat 2 karung beras.

Wira Sanjaya, Project Leader Coral Triangle Center Nusa Penida, mengatakan sejak tahun 1996, masyarakat adat di Nusa Penida memiliki aturan adat larangan pengambilan karang dan mangrove. Selain itu, dalam kurun waktu tertentu, masyarakat setempat mengadakan prosesi Nyepi Segara yaitu perairan laut ditutup bagi aktivitas selama seharian.

Hanya saja, kata dia, aturan adat ini kurang efektif ketika berhadapan dengan pelaku perusakan atau pelanggar adat dari luar. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun mekanisme penegakan hokum formal yang memperkuat adat. (ICH/AYS)

Sumber : Harian Kompas, 14 Juli 2017

Komentar

Komentar

x

Check Also

Peringatan Hari Bumi 2018 “Satukan Aksi untuk Bumi Lestari”

Sebagai bentuk kepedulian dan wadah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan ekosistem di bumi, Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) gelar rangkaian acara untuk memperingati Hari Bumi 2018. Acara digelar selama 3 hari, yaitu pada 16, 18 dan 19 April 2018 dengan melibatkan 100 peserta yang terdiri dari siswa/i se-Kabupaten Jembrana, UPT KKP dan ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow