Home / Bali / Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

“ Pada tahun 1963 saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Waktu itu saya menjadi angkatan kedua di SD 1 Purwakerthi,” tutur I Made Badung, saksi sejarah saat Gunung Agung meletus tahun 1963.

Sebelum meletus, para pengungsi sudah berdatangan dari Desa Datah dengan berjalan kaki, karena dulu akses transportasi belum secanggih sekarang. I Made Badung bercerita bahwa jam 4 pagi pada tanggal yang tidak dapat diingatnya, Gunung Agung meletus.

“Saya yang masih bocah dan belum mengerti apa – apa. Diseret lari oleh orang tua untuk keluar rumah dan menyaksikan langsung fenomena alam yang mengerikan tersebut. Asap tebal sudah terlihat dari jam 7 malam dan gempa yang terus terasa. Terlihat dari Desa Purwakerthi, lahar panas yang berwarna kemerahan berjalan meluncur keluar dari puncak Gunung Agung. Bersama para pengungsi saya menyaksikan fenomena alam yang mengerikan,” kisah kakek asal Biaslantang, Purwakerthi ini.

Made Badung menggambarkan suasana saat itu adalah pagi hari yang gelap gulita. Suasana mencekam dan terdengar suara gemuruh. Letusan terjadi hampir 2 minggu secara terus – menerus dan setelah memuntahkan lahar panas baru ada gejala – gejala hujan abu dan hujan kerikil. Saat terjadi hujan kerikil banyak kedis belatik atau burung belatik masuk ke rumah – rumah warga dan tidak ada yang hinggap di pohon karena muntahan kerikil panas yang dapat membunuh burung- burung tersebut.  Hujan abu yang menutupi langit membuat tumbuh – tumbuhan terkontaminasi dengan abu saat itu. Sayur – sayuran tidak bisa dikonsumsi untuk dijadikan urab atau jukut. Tetapi warga lebih memanfaatkan umbi – umbian untuk dikonsumsi. Makanan saat itu sangat sulit untuk didapat. Hanya ubi dan jagung yang menjadi makanan saat itu dan sering kali kelaparan. Karena makanan yang kurang dan merasa kelaparan, saat itu akar pisang pun dimkan untuk mengisi perut semata.  Masalah air minum saat itu masyarakat mencari air di kedokan dan di cakangane tepatnya di tukade.

Dulu logistik bantuan untuk para pengungsi sangat minim mungkin karena keterbatasan teknologi dan informasi. Sedangkan sekarang lebih banyak bantuan dan lebih cepat informasi yang beredar. Keadaan gelap tanpa listrik dan hanya menggunakan sundih sentir sudah biasa dirasakan saat tahun 1963. “Saya yang masih kecil bahkan beramai – ramai ke tukad liki yaitu (daerah aliran lahar panas) untuk menyaksikan banjir lahar panas yang membawa material batu kayu dan lain sebagainya hanyut dan bermuara ke laut,” ujarnya.

Cerita lain di balik Gunung Agung yaitu terjalinnya rasa persaudaraan diantara pengungsi dengan warga di tempat mereka mengungsi. Bahkan ada yang mendapatkan jodoh saat mengungsi dan saling menyame braya. Dampak dari letusan Gunung Agung tersebut diasakan sampai 6 hingga 7 bulan dan mulai pulih tahun 1964.

Oleh : Tirta Noviyanti, Pewarta Amed

Komentar

Komentar

x

Check Also

Ditinggal Ngungsi, Pantai Tulamben Jadi Sepi

Meningkatnya aktivitas Gunung Agung ke level awas berpengaruh pada tingkat kunjungan wisatawan ke Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem yang dikenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling dan diving. Sejak Gunung Agung ditetapkan berstatus awas pada 22 September 2017 yang lalu, aktivitas pariwisata Tulamben lumpuh total. Ribuan warga mengungsi ke beberapa daerah yang ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow