Home / Bali / Manisnya Gula Ental dari Tangan Pengrajin Dukuh

Manisnya Gula Ental dari Tangan Pengrajin Dukuh

Beranjak dari penatnya hiruk pikuk kota menuju ke pesisir timur Pulau Bali, jajaran pohon Lontar menjadi pemandangan lumrah di Desa Tulamben dan Dukuh. Dua desa yang berlokasi hulu-hilir ini memiliki karakter tanah yang sama, kering dan berpasir. Maka kondisi tersebut menjadi tempat ideal untuk tumbuhnya pohon Lontar. Lontar atau lebih dikenal dengan nama Siwalan adalah palem yang banyak tumbuh di daerah-daerah kering seperti di pulau Jawa bagian timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara. Sejak jaman kerajaan dahulu, daun Lontar digunakan sebagai sarana menulis karya sastra. Tanaman yang masih satu Famili dengan pohon kelapa ini, tak kalah memberikan manfaat yang berlimpah bagi masyarakat Dukuh.

Nira Lontar selain disadap dan diolah menjadi tuak dan arak, juga diolah menjadi gula merah atau gula Ental (sebutan Lontar dalam Bahasa Bali). Proses pembuatan gula Ental tidak berbeda jauh dari pembuatan gula merah aren maupun gula merah kelapa. Tuak Ental yang menjadi bahan baku utama dituangkan ke penggorengan besar yang telah diletakkan di atas tungku kayu bakar kemudian rebus hingga mendidih. Setelah mendidih, tuak Ental diaduk sekitar 30 menit dan api mulai dikecilkan. Terus diaduk hingga mengental dan menjadi gula berwarna kecoklatan. Kemudian api dimatikan dan tunggu gula mulai hangat. Proses selanjutnya adalah gula Ental dituangkan ke cetakan. Para pengrajin gula Ental di Dukuh biasanya menggunakan anyaman dari daun lontar untuk mencetak sekaligus wadah gula Ental. Anyaman lontar ini berbentuk bulat panjang dengan ukuran panjang sekitar 25 cm. Jadi dalam satu pohon lontar, hampir semua bisa dimanfaatkan untuk perekonomian warga Dukuh.

Semua proses ini dilakukan dengan tangan dan kerja keras para pengrajin gula Ental untuk menghadirkan manisnya gula dalam secangkir kopi atau teh. Pembuatannya pun masih menggunakan cara tradisional dan konvensional, dari pemanenan nira hingga menjadi gula. Kualitas gula dijamin organik karena diproses tanpa senyawa sintetis. Selain karena rasa harum-manisnya yang khas, kearifan lokal ini bisa jadi membawa manfaat kesehatan tersendiri, terutama untuk penderita diabetes. Gula Ental bisa menjadi alternatif untuk menggantikan gula pasir karena indeks glikemiknya rendah.

Mau tahu proses pembuatan dan berinteraksi dengan pengrajinnya langsung? Yuk ikutan Desa Organik Tangguh Inspirasi Dukuh! Daftar sekarang disini. 

Komentar

Komentar

x

Check Also

Sampah Bukan Sahabat Penyu

Indonesia dikutip dari Jambeck et al., (2015) menduduki posisi ke dua terbesar penyumbang sampah plastik dunia sebesar 0.48–1.29 jutaan ton/tahun yang dibuang ke laut setelah Cina. Selain itu rata-rata penduduk Indonesia memproduksi sampah mencapa 0,8 kg/ hari (Prawira, 2014) dan bisa dimungkinkan jumlah ini akan bertambah setiap tahunnya, mengingat adanya angka ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow