Home / Bali / Mengenal Mangrove di Bali

Mengenal Mangrove di Bali

Apa itu Mangrove? atau apa itu Bakau? Sebelum kita jauh lebih dalam mengenal mangrove atau bakau, kita mulai dulu dengan arti kata ya. Dari beberapa kamus yang telah dipelajari dan dirangkum, mangrove didefinisikan sebagai tumbuhan yang hidup dan dapat beradaptasi dengan baik di wilayah pasang surut. Mangrove juga sering disebut dengan bakau, namun secara struktur, sebenarnya bakau itu merujuk pada jenis atau spesies mangrove itu sendiri yaitu Rhizophora sp. Jadi jangan salah sebut ya, kita gunakan definisi yang baik dan benar untuk penyebutan tumbuhan ini.

Pulau Bali memiliki kekayaan mangrove seluas 2489.11 ha yang tersebar di 5 wilayah kabupaten, yaitu Buleleng, Jembrana, Badung, Denpasar, dan Klungkung. Setidaknya 18 spesies mangrove sejati dapat ditemukan disini. Mangrove digunakan oleh penduduk lokal sebagai salah satu tempat untuk mencari ikan, kepiting, kerang, dan udang. Biasanya dikonsumsi atau dijual ke pasar, tak terkecuali pemanfaatan mangrove sebagai kayu bakar.

Seiring berkembangnya waktu, mangrove telah berevolusi menjadi destinasi pariwisata yang menarik untuk dikunjungi. Perputaran ekonomi yang dihasilkan dari pariwisata mangrove telah banyak membantu perekonomian masyarakat lokal saat ini, lihat saja Tahura, Nusa Lembongan, Menjangan, Jembrana. Lokasi-lokasi tersebut merupakan destinasi pariwisata mangrove yang terkenal saat ini. Namun apakah pemanfaatan mangrove sebagai sumber penghasilan sudah memenuhi kualitas sebuah konservasi? Mari kita cari jawabannya.

Pada sekitar tahun 1984 konversi mangrove secara besar-besaran terjadi di wilayah Bali . Beberapa sumber lokal yang telah dikonfirmasi, konversi ini dliakukan karena mangrove dirasa tidak memiliki nilai ekonomis penting bagi masyarakat sebelumnya. Di Bali konversi mangrove sebagian besar dilakukan untuk 2 hal yaitu sebagai bahan baku kayu bakar pembuatan semen dari batu karang dan yang kedua adalah untuk digantikan menjadi lahan tambak ikan dan udang. Seiring berjalannya waktu selama 1, 5 dekade kegiatan tersebut sudah tidak menjadi prioritas utama dalam peningkatan perekonomian bagi masyarakat lokal di sini, penyakit dan hama mulai menyerang ikan dan udang di wilayah tambak, pengambilan terumbu karang tidak diperbolehkan lagi karena merupakan kegiatan ilegal dan merusak lingkungan secara langsung.

Namun seiring berjalannya waktu, lahan-lahan konversi yang telah ditinggalkan tersebut dihijaukan kembali oleh kelompok-kelompok masyarakat peduli lingkungan beserta pemerintah setempat. Karena kesadaran yang mulai tumbuh untuk menjaga ekosistem ini dan upaya untuk memanfaatkan secara konservasi mulai berjalan, banyak masyarakat mulai melirik mangrove sebagai usaha pariwisata ekosistem atau kita sebut sebagai ekowisata (contoh: Nusa Lembongan). Untuk contoh hasil upaya penghijauan yang telah dilakukan, dibawah ini ditunjukkan hasil observasi penginderaan jauh yang menggambarkan perbandingan luasan mangrove dari tahun 2002 hingga 2011 di wilayah Perancak-Bali.

Komentar

Komentar

x

Check Also

Pasamuan Lembaga Umat Tolak Listrik Bali Crossing

Gelombang penolakan terhadap rencana PLN membangun jaringan listrik Jawa-Bali atau Bali Crossing dengan tower (menara) setinggi 376 meter melalui Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di dekat areal Pura Segara Rupek, Desa Pakraman Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng terus bermunculan. SINGARAJA, NusaBali Kali ini, Pasamuan Lembaga Umat Hindu se-Buleleng juga putuskan ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow