Home / Cerita Lapangan / Pemetaan Partisipatif 3 Desa SIDESI Tulamben, Bunutan, Bugbug

Pemetaan Partisipatif 3 Desa SIDESI Tulamben, Bunutan, Bugbug

Guna menunjang pembangunan KKP yang berbasis kuat di masyarakat, khususnya masyarakat desa-desa penyangga KKP serta upaya sinkronisasi KKP dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa (sesuai dengan mandat UU. No.6 tahun 2014 tentang Desa) maka CI Indonesia mengembangkan program SIDESI (Sistem Informasi Desa Konservasi) di 3 desa percontohan, yaitu Desa Bugbug Kecamatan Karangasem, Desa Bunutan Kecamatan Abang, dan Desa Tulamben Kecamatan Kubu. Untuk dapat mengumpulkan informasi secara lengkap dan partisipatif maka sangat penting untuk dilakukan kegiatan pemetaan partisipatif baik untuk pemetaan spasial (keruangan) maupun pemetaan sosial budaya.

Sebelum dimulainya kegiatan Pemetaan Lapang, diawali dengan Pelatihan Pemetaan Partisipatif. Pelatihan Pemetaan Partisipatif ditujukan agar masyarakat mengetahui arti penting peta dan data pendukung yang dilakukan secara partisipatif. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari, mulai tanggal 24 sampai dengan 26 November 2016 bertempat di Kantor Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Karangasem. Peserta dari kegiatan ini merupakan perwakilan dari KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) di masing-masing desa. Perwakilan dari Desa Tulamben sebanyak 8 orang, Desa Bunutan sebanyak 6 orang, dan Desa Bugbug sebanyak 10 orang. Total peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut sebanyak 24 orang.

Rangkaian kegiatan pelatihan diawali dengan materi “Spirit Bali dalam Ruang Desa Wisata Ekologis” oleh I Ketut Sumarta dari Sekjen MUDP (Majelis Utama Desa Pakraman) dan materi “Pemetaan Partisipatif” dari Imam Hanafi (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif). Selain diisi dengan materi, kegiatan juga diisi dengan praktik lapangan pengambilan titik koordinat dengan GPS, pengenalan SIG (Sistem Informasi Geografis), dan pemetaan sosial budaya.

Pelaksanaan Pemetaan di masing-masing desa berbeda-beda, tergantung pada kesiapan Tim Lapangan. Desa Bunutan dimulai tanggal 2 Desember 2016, Desa Bugbug tanggal 7 Desember 2016, sedangkan Desa Tulamben dimulai tanggal 9 Desember 2016. Tim yang terlibat dalam pemetaan spasial berjumlah empat orang yang didampingi oleh satu orang fasilitator lapangan. Dalam pelaksanaannya, tim bertugas untuk mengambil titik koordinat batas wilayah desa, batas dusun/banjar, fasilitas umum, dan fasilitas sosial yang ada, tata guna lahan, pemukiman masyarakat, sumber mata air, serta tempat-tempat sakral dan mempunyai nilai potensi yang tinggi. Dalam hal ini tim harus banyak berkoordinasi dengan mereka yang benar-benar mengetahui batas wilayah, seperti Kepala Desa, Kepala Dusun, Kelian Desa Adat, serta para tetua desa yang mengetahui batas dan titik-titik tersebut. Koordinasi ini sangat penting agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan titik koordinat dilapangan tidak salah, dan lebih mempermudah dalam pelaksanaannya di lapangan.

Tim SIDESI Bunutan membuat peta sketsa desa dan pembagian tim sebelum turun ke lapangan

Sebelum turun lapang, tim pemetaan mengawali dengan pembuatan peta sketsa dan pembagian tim. Peta sketsa dibuat untuk mempermudah pengambilan titik lapang. Tim dibagi menjadi dua, satu yang bertanggung jawab terhadap batas wilayah, satunya lagi bertugas mengambil data di dalam wilayah desa. Sepulang dari pengambilan titik, semua tim wajib berkoordinasi menyampaikan hasil yang didapat, kendala yang dihadapi dilapangan, solusi atau jalan keluar, dan menyepakati kembali jadwal di hari berikutnya. Demikian terus yang dilakukan sehingga tercapai target sesuai dengan yang direncanakan.

Di Desa Bugbug pemetaan perbatasan wilayah Desa Adat Bugbug dan Tenganan dihadiri sekitar 40 orang perwakilan desa adat, penglingsir, pihak keamanan dan anak-anak muda dari desa masing-masing. Tim yang terlibat dalam kegiatan Riset Sosial Budaya berjumlah tiga orang. Sama halnya seperti dalam kegiatan pemetaan spasial, tim ini pun didampingi oleh satu orang fasilitator lapangan. Dalam pelaksanaannya, Tim Riset Sosial Budaya lebih banyak menggali informasi yang terdapat di dalam desa.

Tim SIDESI Tulamben melakukan pengambilan titik koordinat dengan GPS dalam pemetaan spasial

Setelah data spasial dan sosial terkumpul kemudian diolah menjadi peta dan narasi sosial budaya. Tahap selanjutnya adalah verifikasi data di 3 desa. Tujuan verifikasi peta adalah membahas hasil pemetaan bersama dan mendiskusikan hasil yang dirasakan kurang. Masukan yang didapat dari pembahasan peta hasil pemetaan partisipatif oleh Tim SIDESI diolah dan dimasukan kembali ke peta desa Bunutan sebelum dibahas di tingkat Desa dan mengundang desa penyanding.

Di Tulamben, peta akan dilengkapi secara berkala dan akan dianggarkan dari APBDes untuk melengkapi peta termasuk pemasangan tapal batas desa, dusun, pemetaan jalan, dan plang nama jalan serta kegiatan lainnya yang dirasakan perlu untuk kemajuan desa kedepannya. Serah terima hasil pemetaan partisipatif dari tim SIDESI Tulamben kepada pemerintah Desa Tulamben dan mengundang kepala Desa Dukuh dan Kepala Desa Datah sebagai perwakilan desa penyanding yang berbatasan langsung dengan Desa Tulamben.

 

Komentar

Komentar

x

Check Also

Paham Makna Keberagaman Saja Tidak Cukup

Saya adalah guru pre-school di Denpasar. Hampir setiap hari saya melihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan teman-teamnnya. Anak-anak diusia ini sangat tulus dan jujur. Mereka akan bermain tanpa membeda-bedakan selama itu menyenangkan bagi mereka. Anak-anak juga sering bertengkar, namun tak perlu menunggu lama, mereka akan akur, bermain kembali, dan begitu saja ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow