Home / Jurnalisme Warga / Pengelolaan Sampah di Desa Sengkidu

Pengelolaan Sampah di Desa Sengkidu

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia. Sampah di mana-mana menjadi masalah namun jika kita arif dan bijaksana sampah dapat menjadi berkah.  Di dunia, sampah menjadi masalah global  namun bagi negara maju sampah sudah dapat terkelola dengan baik. Hal ini dikarenakan negara maju sudah mapan dengan teknologi tinggi begitu juga kebijakan mengenai sampah sudah lebih dulu peduli dengan lingkungan.

Di negara berkembang seperti Indonesia, sampah juga merupakan masalah yang sulit terpecahkan tapi syukurlah kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia sudah mengarah pada kepedulian lingkungan. Khusus di Desa Sengkidu ,sampah sudah mulai tertangani dengan baik berkat kebijakan Kelian Pekraman Desa Sengkidu dan Perbekel Desa Sengkidu  membuat kebijakan mengenai persampahan. Tepatnya pada tahun 2010 Desa Sengkidu melaksanakan  program sampah terpadu, masyarakat yang di pemukiman diwajibkan memilah sampah dimasing masing rumah dan petugas persampahan mengambil tiap hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat,Minggu. Sedangkan Hari Rabu dan Sabtu masyarakat mengeluarkan sampah plastik.

Mulanya kebijakan ini mendapat tantangan dari masyarakat, yakni belum sadarnya masyarakat memilah sampah di masing masing rumah. Tetapi Kelian Pekraman dan  Perbekel Desa Sengkidu tak henti-hentinya menghimbau masyarakat untuk arif memilah sampah di rumah masing masing .

Dalam perjalanan pengelolaan sampah, petugas sampah mengalami kendala-kendala diantaranya, minimnya peralatan persampahan serta minimnya armada pengangkut sampah. Namun hal ini sudah dapat tertangani berkat bantuan Pemerintah Provinsi Bali bangunan gedung pengolahan sampah , armada pengangkut serta alat alat penunjang lainnya .

Untuk menunjang keberlangsungan pengelolaan sampah, masyarakat dikenai kontribusi iuran sesuai peruntukannya. Masyarakat yang langsung diambil sampahnya dikenai iuran 6000 rupiah, termasuk yang tidak diambil dikenai 4.000 rupiah, sekolah 27.000 rupiah, hotel dan villa sesuai dengan besaran jumlah sampah yang dipungut namun ada standar besarannya.

Berkat kebijakan pengelolan sampah yang dilakukan di Desa Sengkidu, masyarakat yang dulunya tidak memiliki pekerjaan dapat dimanfaatkan dalam program ini sebagai tenaga kerja. Begitupula wajah Desa Sengkidu semakin bebas sampah plastik serta semakin asri.

Mudah mudahan program ini dapat berkesinambungan. Semua berkat masyarakat serta  antusias kita semua demi Desa Sengkidu yang bersih dan asri dari sampah plastik.

Oleh : Suwendra (Pewarta Sengkidu)

Komentar

Komentar

x

Check Also

Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

“ Pada tahun 1963 saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Waktu itu saya menjadi angkatan kedua di SD 1 Purwakerthi,” tutur I Made Badung, saksi sejarah saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Sebelum meletus, para pengungsi sudah berdatangan dari Desa Datah dengan berjalan kaki, karena dulu akses transportasi belum secanggih ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow