Home / Bali / Sampah Bukan Sahabat Penyu

Sampah Bukan Sahabat Penyu

Indonesia dikutip dari Jambeck et al., (2015) menduduki posisi ke dua terbesar penyumbang sampah plastik dunia sebesar 0.48–1.29 jutaan ton/tahun yang dibuang ke laut setelah Cina. Selain itu rata-rata penduduk Indonesia memproduksi sampah mencapa 0,8 kg/ hari (Prawira, 2014) dan bisa dimungkinkan jumlah ini akan bertambah setiap tahunnya, mengingat adanya angka pertumbuhan penduduk yang selalu naik setiap waktunya.

Penyadaran perilaku membuang sampah dan pengurangan sampah plastik hingga saat ini masih menjadi point penting untuk terus dikampanyekan, karena pada tahun 2025 pemerintah Indonesia menargetkan untuk pengurangan sampah dilaut hingga 70% (Lestari, 2017) atau setara dengan 0,90 MMT.

Sampah merupakan ancaman terbesar bagi kehidupan makhuk hidup yang ada di Bumi, terutama yang kita garis bawahi saat ini adalah penyu, dimana 6 dari 7 spesies penyu di Dunia ada di wilayah Indonesia, yaitu: Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Pipih (Natator depressus), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Tempayan (Carreta caretta), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae). Padahal mereka merupakan hewan prasejarah dan terancam punah.

Siklus hidup penyu sangat rentan sekali terhadap kematian. Dari 1000 telur yang menetas menjadi tukik (anak penyu) diperkirakan hanya 1 ekor yang mampu bertahan hidup hingga kembali bertelur lagi.

Mengapa demikian? Karena mulai dari telur hingga menjadi penyu dewasa, mereka harus melewati pertarungan selama 25 tahun untuk dapat terhindar dari abrasi pantai, perburuan telur dan daging penyu (baik dari manusia maupun hewan), pencemaran limbah industri atau tumpahan minyak, dan sekarang bertambah 1 komponen lagi yaitu pencemaran lingkungan akibat sampah yang sengaja dibuang kelaut (khususnya sampah plastik).

Penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivacea) ke pantai di Jembrana, Bali, untuk bertelur, dengan sampah di sisinya. Foto : Hanggar Prasetio/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivacea) ke pantai di Jembrana, Bali, untuk bertelur, dengan sampah di sisinya. Foto : Hanggar Prasetio/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Kejadian miris terhadap penyu terkait dengan sampah sudah sering terjadi, terbesar diantaranya adalah diakibatkan oleh ghost net –alat penangkapan ikan– dan sampah plastik yang dikira sebagai sumber makanan alami mereka.

Menurut penelitian yang dikutip dari Sartika (2017), setidaknya ditemukan 1000 kematian penyu tiap tahunnya didunia diakibatkan oleh sampah plastik, dan 91% kematian penyu juga diakibatkan oleh terjerat oleh alat tangkap ikan. Jika kematian secara alami mereka saja dikatakan sudah berpengaruh besar terhadap kelulushidupan mereka, bagaimana kematian yang disebabkan oleh aktivitas manusia tersebut?

Dalam menanggapi hal tersebut Conservation International Indonesia (CII) berkolaborasi dengan Fablab Bandung, Balai Penelitian dan Observasi Laut, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jembrana, Kelompok Masyarakat Peduli Sumber Daya Air (KMPSDA) Ijo Gading, dan Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih, melakukan aksi pencegahan penyebaran sampah di laut melalui alat Mangrove-Bin.

Perangkat penangkap sampah Mangrove bin yang dipasang di Sungai Ijo Gading, Jembrana, Bali. Foto : Hanggar Prasetio/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Perangkat penangkap sampah Mangrove bin yang dipasang di Sungai Ijo Gading, Jembrana, Bali. Foto : Hanggar Prasetio/Conservation International Indonesia/Mongabay Indonesia

Mangrove-Bin adalah alat yang didesain khusus mengikuti aliran pasang surut untuk menjadi perangkap sampah yang berpotensi sebagai sampah laut. Kenapa ada kata-kata mangrove? Karena diletakkan pada aliran sungai yang dikelilingi oleh ikon penting Kabupaten Jembrana yaitu hutan mangrove. Alat ini juga digunakan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup mangrove agar terhindar dari sampah yang dibuang secara tidak bertanggung jawab oleh orang-orang di aliran Sungai Ijo Gading.

Setidaknya sudah hampir 1 tahun Mangrove-Bin bekerja untuk membantu menanggulangi ancaman sampah laut dari sungai Ijo Ganding. Dari hasil pengambilan sampahnya, didapati kondisi sampah “aktif” berpotensi keluar kelaut adalah sebesar 1135,25 kilogram selama pengamatan 6 bulan ini.

Komposisi sampah tertinggi adalah dari alami (organik) sebesar 63,97% terdiri dari kayu pohon, ranting, hingga bambu. Sedangkan sampah anorganiknya sebesar 36,63% terdiri dari diapers, plastik pembungkus makanan, botol plastik, kantong plastik, kantong beras, hingga plastik terpal. Secara hitungan timbangan sampah anorganik terlihat lebih sedikit, namun dampak yang ditimbulkan dari sampah-sampah tersebut dapat mengganggu ekosistem alami perairan dan bahkan kesehatan masyarakat disekitarnya.

Dalam perjalanannya, saat ini program Mangrove-Bin memulai kerjasama dalam penanganan sampah plastik dengan menjalin keterikatan dengan Bank Sampah terdekat untuk membeli hasil sampah yang telah terkumpul dan dipilah, seperti yang dilakukan oleh Bank Sampah Lestari, dimana sampah yang memiliki kriteria beli mereka (seperti botol plastik, dan kantong plastik) dapat di hargai hingga 2000/kg kering. Dan kemudian sisa sampah lainnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau dibuang di tempat pembuangan sampah terdekat.

Penyu memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem di laut, seperti : kontrol ubur-ubur yang mengakibatkan kematian juvenil ikan, penanda bebas polusi (karena penyu bernafas dengan paru-paru), membantu dalam distribusi spasial lamun, mengontrol komposisi spons yang ada di terumbu karang, dan pelindung bagi hewan lain yang ikut menempel pada karapasnya. Peranan tersebut dapat hilang jika kita tidak secepatnya bertindak untuk menyelamatkannya.

Bukan sebagai alasan untuk kita tidak berkontribusi untuk membantu alam agar tetap lestari, namun hal tersebut merupakan kewajiban bagi kita, karena perilaku kita sendiri sebenarnya yang merusak alam.

Alam Tidak Butuh Manusia, tapi Manusia Butuh Alam

 

Pustaka:

Jenna, R. Jambeck, Roland Geyer, Chris Wilcox, Theodore R. Siegler, Miriam Perryman, Anthony Andrady, Ramani Narayan, Kara Lavender Law. 2015. Plastic waste inputs from land into the ocean.

Lestari, S. 2017. Bagaimana Indonesia kurangi sampah plastik di laut sampai 70% pada 2025?. Diakses pada tanggal 24/09/2018.

Prawira, E. A. 2014. Sampah di Indonesia Paling Banyak Berasal dari Rumah Tangga. Diakses pada tanggal 24/09/2018.

Sartika, A. E. R. 2017. Makin Mengerikan, Tiap Tahun 1.000 Penyu Mati akibat Sampah Plastik. Diakses pada tanggal 24/09/2018.

***

*Hanggar Prasetio,Ridge to Reef GIS Coordinator Conservation International Indonesia. Artikel ini merupakan opini penulis

***

Keterangan foto utama : sampah di lautan, menjerat seekor penyu yang berenang diantara lautan sampah. Sumber: NOAA

Sumber: Mongabay Indonesia

Komentar

Komentar

x

Check Also

Sosialisasi Konservasi Perairan Terkendala Keluhan Pungli

KARANGASEM – Upaya pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Karangaem rupanya masih memenuhi sejumlah kendala. Ditengah upaya sosialisasi, jajaran Bendesa Adat yang notabena menjadi desa penyangga justru mengeluhkan masih maraknya pungli di sekitar Konservasi. Kali ini, sosialisasi dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan Bali bersama dengan LSM Kelautan CII mengundang Sembilan Desa ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow