Home / Jurnalisme Warga / Suka Duka Perjalanan Tim Sidesi Bunutan demi Sebuah Titik

Suka Duka Perjalanan Tim Sidesi Bunutan demi Sebuah Titik

Siang itu tanggal 2 Desember 2016 matahari bersinar dengan teriknya, namun tak menyurutkan semangat tim untuk memulai perjalanannya. Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama untuk membuat sketsa dan pembagian kelompok. Setelah sketsa selesai, akhirnya kami sepakat untuk membagi tim menjadi 3 kelompok. Tim ini bernama Tim Sistem Informasi Desa Konservasi (SIDESI). Dimana Tim SIDESI Bunutan berjumlah 6 orang, yang terdiri dari 3 orang pemuda Desa Bunutan yang kebetulan berprofesi sebagai tenaga pendidik dan 3 orang lagi merupakan perangkat desa. Tim ini didampingi oleh 2 orang pendamping dari Conservation International (CI) Indonesia.
Setelah terbentuk 3 kelompok, perjalanan dimulai dengan menyusuri bibir pantai Bunutan – Lean. Kelompok 1 berangkat dari Pantai Bunutan menuju ke timur. Sebaliknya kelompok 2 berjalan dari Pantai Lean menuju ke barat. Sedangkan kelompok 3 mencari tempat-tempat fasilitas umum yang ada di wilayah Desa Bunutan. Masing-masing kelompok dibekali dengan sebuah GPS, yang berfungsi untuk mengambil titik koordinat.
Maksud dari kegiatan ini adalah untuk melakukan pemetaan partisipatif di wilayah Desa Bunutan. Dimana pemetaan ini bertujuan untuk memetakan batas wilayah dan fasilitas umum yang ada di Desa Bunutan. Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk menentukan dan memperjelas batas-batas wilayah desa dengan mengambil titik koordinat dengan menggunakan GPS yang nantinya titik-titik tersebut akan saling dihubungkan dan membentuk sebuah peta desa. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Pemerintah Desa Bunutan dengan CI International Indonesia.

Desa Bunutan terdiri dari 10 banjar dinas yakni Banjar Dinas Sega, Banjar Dinas Gulinten, Banjar Dinas Cangwang, Banjar Dinas Bangle, Banjar Dinas Bunutan, Banjar Dinas Lean, Banjar Dinas Banyuning, Banjar Dinas Aas, Banjar Dinas Batukeseni dan Banjar Dinas Kusambi. Desa Bunutan terbagi menjadi 2 Desa Pakraman atau Desa Adat yakni Desa Pakraman Sega dan Desa Pakraman Gulinten.

Kondisi medan di lapangan sangat berat, karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari perbukitan dan juga berbatasan dengan hutan negara. Sehingga tim harus membutuhkan persiapan yang maksimal demi menaklukan medan yang ada terutama kesiapan fisik dan logistik.

Di setiap perjalanan tim didampingi oleh perwakilan dari desa-desa penyanding baik perangkat desa maupun warga yang mengetahui batas desa. Hal pemetaan nantinya diharapkan bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya. Misalnya batas desa yang ada di wilayah antara Banjar Dinas Sega dengan Desa Pakraman Purwayu. Disana dari dulu sudah ditetapkan batas desa dengan mengacu pada istilah “Labuhan Yeh”. “Labuhan Yeh” yang artinya jatuhan air.

 Jika jatuhan air jatuh ke timur maka daerah tersebut menjadi wilayah Desa Bunutan. Sedangkan jika jatuhan air mengalir ke barat maka daerah tersebut menjadi wilayah dari Desa Pakraman Purwayu. Daerah tersebut dibatasi oleh sebuah bukit tinggi yaitu Bukit Lempuyang. Hal ini sudah tercantum dalam Awig-Awig Desa yang disebut dengan “Pemunder” yang dimiliki oleh Desa Pakraman Purwayu.

Selama kegiatan ini berlangsung, tim melewati banyak rintangan mulai dari faktor cuaca, medan dan juga sistem komunikasi. Kebetulan saat pemetaan berlangsung sedang dalam pertengahan musim hujan. Jadi kegiatan turun lapang yang sudah terjadwal mulai tanggal 2-22 Desember 2016 malah molor akibat cuaca yang tidak bersahabat. Bahkan tim yang sedianya membawakan konsumsi bagi tim lain yang sudah berangkat duluan terjebak banjir. Alhasil tim tersebut menderita kelaparan di tengah hutan dan dengan keadaan basah kuyup karena diguyur hujan. Namun mereka tetap semangat melanjutkan perjalan munyusuri batas desa demi mengambil titik koordinat. Sesekali mereka mengabadikan momen yang ada dengan melakukan foto selfie maupun mengambil video dengan kamera handphone masing-masing.

Seperti misalnya saat tim sedang menyusuri batas desa di wilayah Banjar Dinas Gulinten. Jalan yang dilalui merupakan sebuah sungai, kadang tim melakukan candaan seperti main perosotan untuk menghibur diri dari rasa lelah dan dahaga serta kedinginan akibat diguyur hujan. Bahkan ada juga tim yang sampai tepar di tengah perjalanan karena mengalami kelelahan naik turun bukit dari pagi hingga sore. Namun kadang semua lelah itu terbayarkan dengan keindahan pemandangan alam yang sering kita jumpai dalam perjalanan, sambil tak lupa juga mengambil titik koordinat.

Perjalanan tim terus berlanjut sampai mengelilingi semua batas luar dari desa Bunutan. Tersambung dalam pengambilan titik koordinat sesuai tapal batas yang sudah ada. Setelah data terkumpul semua, maka pengolahan dan pembuatan peta diambil alih kembali oleh pihak Conservation International Indonesia. Tanggal 10 Mei 2017 peta pun disahkan serta diserahterimakan oleh tim kepada Perbekel Desa Bunutan dengan disaksikan oleh perwakilan dari masing-masing desa penyanding.

Demikianlah suka duka perjalanan Tim SIDESI Bunutan dalam menyusuri batas desa demi mengambil titik-titik koordinat hingga terbentuknya sebuah peta yang dinamakan dengan peta partisipatif. Nantinya diharapkan mampu membantu dalam memetakan rencana pembangunan desa kedepan.

Ditulis oleh : Nesa Wijaya (Tim SIDESI Bunutan)

Komentar

Komentar

x

Check Also

Kisah Kakek asal Biaslantang saat Letusan Gunung Agung Tahun 1963

“ Pada tahun 1963 saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun. Waktu itu saya menjadi angkatan kedua di SD 1 Purwakerthi,” tutur I Made Badung, saksi sejarah saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Sebelum meletus, para pengungsi sudah berdatangan dari Desa Datah dengan berjalan kaki, karena dulu akses transportasi belum secanggih ...

Powered by Dragonballsuper Youtube Download animeshow